Analisis Pemidanaan Bagi Para Pelaku Aborsi korban Pemerkosaan (Studi Perbandingan Antara Hukum Pidana Indonesia dan Fiqh Jinayat)

Afif Khalid

Abstract


Pada dasarnya aborsi adalah sesuatu yang dilarang baik dalam hukum pidana Indonesia maupun menurut hukum Islam. Akan tetapi masalah aborsi adalah masalah yang sangat komplek yang tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang, oleh karena itu perlu ada kajian lebih mendalam terkait hukum aborsi. Terutama aborsi yang memiliki alasan kuat diantaranya aborsi dengan alasan medis juga aborsi akibat pemerkosaan. Dalam pemerkosaan terdapat berbagai kondisi yang beraneka ragam, misalnya adanya luka fisik, stres atau trauma yang menghantui korban, maupun kondisi psiko-sosial yang bermacam-macam. Aturan yang terdapat dalam hukum pidana melarang segala bentuk aborsi hal tersebut karena KUHP menitik beratkan aborsi pada aspek kriminalitas saja. Sehingga perlu adanya pertimbangan hukum terhadap pelaku aborsi korban pemerkosaan, karena hukum dibuat adalah untuk melindungi dan memberikan keadilan terhadap seluruh lapisan masyarakat. Sebagaimana dalam teori bahwa hukum itu bersifat dinamis sesuai dengan situasi dan kondisi.
Dalam hukum Islam pada dasarnya hukum aborsi adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan, akan tetapi apabila suatu keadaan yang memaksa maka diperbolehkan. Tujuan umum syari?at Islam adalah sebagai rahmatan lil alamin, sehingga Islam lebih mengutamakan maslahat baik terhadap masyarakat maupun individu. Dalam fiqh Islam ada beberapa pendapat terkait hukum aborsi akibat pemerkosaan baik yang bersumber dari ulama? klasik maupun kontemporer. diantara tujuan syari?at (maqhosid syari?ah) adalah menjaga agama, akal, jiwa, harta, dan keturunan. Melihat kasus kehamilan korban pemerkosaan ada beberapa unsur yang dapat ditolerir dalam hukum Islam (fiqh jinayat). Pertama adanya unsur pemeliharaan akal karena dalam pemerkosaan sudah tentu akalnya terganggu yang berakibat stress dan trauma, lebih-lebih korban pemerkosaan sampai hamil maka hal tersebut tentu menjadi masalah yang kompleks. Kemudian adanya pemeliharaan nasab (keturunan), karena bisa jadi yang memperkosa lebih dari satu orang sehingga tidak ada kejelasan. Kemudian juga ketika yang diperkosa adalah seorang wanita muslimah yang bersih dan suci tentu tidak sesuai dengan benih laki-laki yang pendosa, bahkan di negara yang minoritas muslim pemerkosa adalah non muslim. Sehingga masalah aborsi tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang karena butuh pendalaman dan pertimbangan hukum yang benar-benar sesuai dan terutama melindungi hak-hak reproduksi wanita.


Basically, abortion something prohibited both in Indonesian Criminal Law in Fiqh Jinayat. But then, abortion is a very complex matter, which cannot be seen from perspective only. Therefore, it is necessary to do deep review in relation to abortion law, especially abortion with strong reasons, such as abortion for medical reason and abortion caused by violation.In violation, there are various conditions such as: physical wound, stress or trauma, and various psychosocial conditions. Rule in criminal law prohibits any abortion forms, because Criminal Code emphasizes abortion on criminality aspect only. So, there is need of law consideration on abortion subject of violation victim, because law is made to protect and to give justice for all walks of live. As mentioned in theory that law has dynamical quality according to its situation and condition.
According to Islamic law, abortion law is substantially prohibited thing, but then if the condition is forcing, hence it is permitted. General purpose of Islamic Syari?ah is a rahmatan lil alamin. So that Islam gives priority to maslahat both on society and individu. In Islamic Fiqh, there are some opinions in associated with law of abortion as the violation result, either are some opinions in contemporary Clergies. Amongst the syari?at objectives (maqhosid Syari?ah) is to keep religion, mind, soul, properties, and descents. Discern pregnancy case of violation victim, there are some elements, which can be tolerated in Islamic law (Fiqh Jinayat). Firstly, the existence of mind keeping element, because there is the victim is getting pregnant, it can become a complex matter. Secondly, the existence of descent maintenance, because it may be the repist is more than one person, so that there is no any explanation for it. Furthermore, if the victim is an innocent and pure Moslem women, indeed it does not correspond to the sinner descent. Even, in Moslem minority countries, repists are non-Moslem. Thus, abortion cannot be seen from one perspective only because it needs deep understanding and law consideration that really appropriate and particularly protecting women reproduction right.

Keyword : aborsi, pemerkosaan, hukum pidana Indonesia, fiqh jinayat

Related Link : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/332/jiptummpp-gdl-s1-2009-afifkhalid-16578-PENDAHUL-..pdf


Keywords


aborsi;pemerkosaan;hukum pidana Indonesia;fiqh jinayat