Pimnas 2006, PKMM-4

Font Size:  Small  Medium  Large   Print Page

PELATIHAN GYNOGENESIS PADA KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN KOI (Cyprinus carpio) DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS GENETIK IKAN KOI DI KELOMPOK PEMBUDIDAYA IKAN KOI “SUMBER HARAPAN” KABUPATEN BLITAR PROPINSI JAWA TIMUR

Sri Pratiwi Saraswati Dewi Dewi, Febrika Kusuma Lestari Hendra Nurcahyo,

Abstract


Salah satu daerah potensial penghasil ikan Koi di Kabupaten Blitar adalah Kecamatan Nglegok, dimana ikan Koi yang dihasilkan mencapai ± 45 % dari total produksi Kabupaten Blitar, yang tersebar di beberapa desa diantaranya Desa Kemloko. Koi Blitar, memiliki variasi warna dan kecemerlangan yang lebih unggul daripada koi dari daerah lain di Indonesia. Pada perkembangannya, kebanyakan petani mencoba menyilangkan generasi berikutnya dengan karper/ikan mas, sehingga terjadi pergeseran atau mutasi gen yang menyebabkan penurunan kualitas koi (Dayat dan Sitanggang, 2004). Sehingga perlu sebuah upaya untuk mendapatkan kembali ikan koi yang berkualitas unggul, salah satunya adalah dengan teknik gynogenesis. Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini adalah untuk : 1. Memperkenalkan metode gynogenesis kepada pembudidaya ikan Koi sehingga mampu menghasilkan benih ikan Koi yang memiliki pola warna dan karakter fenotif yang terbaik dan mengetahui sifat-sifat daya tetas telur, kelulushidupan ikan dan variasi genetik. 2. Memberikan pelatihan dan percontohan langsung mengenai teknik gynogenesis kepada pembudidaya ikan Koi. Metode yang digunakan dalam program PKM Pengabdian Kepada Masyarakat adalah dengan metode "Informal Group Discussions", metode "Demonstrasi Cara" dan metode "Demonstrasi Hasil". Hasil yang dicapai dari kegiatan tersebut dapat diketahui dari parameter utama dan penunjang. Parameter utama tersebut sebagai berikut : 57% dari anggota kelompok pembudidaya ikan koi "Sumber Harapan" ikut dalam pelatihan, 66% peserta merespon baik dengan adanya pelatihan ini, 58% peserta pelatihan paham terhadap materi gynogenesis yang disampaikan dan 83% peserta pelatihan paham terhadap praktek yang telah dikenalkan. Parameter Penunjang : dalam praktek didapatkan Hatching rate (laju penetasan telur) sebesar 11,25% untuk perlakuan gynogenesis meiosis dan 14,25% untuk perlakuan mitosis. SR (Survival rate/kelulushidupan) sebesar 0% untuk perlakuan meiosis dan 7,01% untuk perlakuan mitosis. PF (Prosentase Fenotif) warna sebesar 62,5% untuk jenis Koromo dan 37,5% untuk ghosiki. Sedangkan pola sisik, didentifikasikan bahwa ikan bersisik penuh (scaled).

 

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang


Full Text: doc
Abstract: PDF , PS , DOC