PERENCANAAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA (Studi Kasus pada UD. Wiranto, Pasuruan )

MUHAMMAD BAHRUL ULUM

Abstract


UD. Wiranto merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri furnitur yang memiliki karakteristik Job Shop. Perusahaan ini berusaha untuk memproduksi produk dengan kualitas terbaik dan memberikan kepuasan kepada pelanggan, tetapi masih terdapat beberapa masalah yang dihadapi dalam proses produksi yaitu masih sering terjadi komponen produk cacat (defect) dalam proses produksinya.
Dengan melihat keadaan seperti itu diperlukan suatu metode untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan menggunakan metode six sigma, digunakan untuk mengidentifikasi defect yang akan dapat meningkatkan kualitas produk. Metode Six Sigma yang diharapkan dapat meminimasi/menurunkan terjadinya defect pada proses produksi di UD. Wiranto dengan menciptakan suatu kinerja proses produksi yang sistematis dan kontinyu. Dan berusaha terus untuk tetap memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen.
Tahapan-tahapan Six sigma meliputi tahap Define, Measure, Analyze, Improve dan Control. Pada tahap Define dilakukan pendefinisian produk yang menjadi amatan yaitu kursi makan dan pembuatan flow proses produksi. Tahap Measure, dengan menggunakan diagram Pareto diperoleh tiga jenis cacat kritis yang menjadi permasalahan yaitu jenis cacat kayu pecah, kayu retak dan salah potong. Selanjutnya pada tahap Analyze dilakukan identifikasi penyebab-penyebab cacat dengan menggunakan diagram sebab akibat. Pada tahap Improve dan Control, dengan menggunakan FMEA dan nilai RPN diperoleh alternatif perbaikan pada proses baik untuk cacat kayu pecah, kayu retak dan salah potong. Setelah dilakukan evaluasi hasil implementasi usulan alternatif perbaikan yaitu dengan cara membuat petunjuk pengoperasian mesin, form pengecekan penggunaan petunjuk pengoperasian mesin dan melakukan pengawasan secara langsung kepada operator untuk mengetahui perbandingan jumlah cacat setelah implementasi, diperoleh jumlah cacat awal berdasarkan critical to quality sebesar 43 defect, level sigma awal sebesar 3,62 dan setelah impelmentasi usulan perbaikan jumlah cacat berdasarkan critical to quality turun menjadi 27 defect dan peningkatan level sigma menjadi 3,80.

 

Keyword : Kualitas, Six Sigma, DPMO, FMEA

 

Related Link : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/324/jiptummpp-gdl-s1-2009-muhammadba-16177-PENDAHUL-N.pdf


Keywords


Kualitas; Six Sigma; DPMO; FMEA; UMM