PERENCANAAN PENINGKATAN KUALITAS DENGAN MENGGUNAKAN INTEGRASI METODE SIX SIGMA DAN ISO 9001:2000 (Studi Kasus di PT. Bokormas - Blitar)

FARIS WIDHIARTO

Abstract


PT. Bokormas merupakan salah satu perusahaan yang menghasilkan berbagai macam jenis rokok, salah satunya BM Universal 12. Untuk memproduksi produk dengan kualitas terbaik dan memberikan kepuasan kepada pelanggan, terdapat beberapa masalah yang dihadapi dalam proses produksi rokok yaitu masih terdapat produk cacat (defect) dalam proses produksinya
Dari kondisi tersebut diperlukan suatu metode untuk mengatasi masalah tersebut. Dengan metode six sigma, digunakan untuk mengidentifikasi defect serta meningkatkan kualitas produk. Dalam penelitian tugas akhir ini digunakan suatu integrasi yaitu antara metode six sigma dan ISO 9001:2000. Metode Six Sigma yang diharapkan dapat meminimasi terjadinya defect di PT. Bokormas dengan menciptakan suatu kinerja proses produksi yang lebih efektif, lebih ramping dengan performansi yang lebih baik serta tetap memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. dan berusaha untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas. Sedangkan ISO 9001:2000, merupakan suatu standart internasional yang berorientasi pada produk yang berkualitas..
Berdasarkan data internal dan pengamatan yang dilakukan di perusahaan, maka hanya 3 klausul utama dari persyaratan ISO 9001:2000 yang akan digunakan sebagai tolak ukur perbaikan kualitas produk, yaitu klausul 5 (tanggung jawab manajemen), 7 (realisasi produk), dan klausul 8 (Pengukuran, analisa dan perbaikan). Tahapan-tahapan Six sigma meliputi tahap Define, Measure, Analyze, Improve. Pada tahap Define dilakukan pendefinisian produk, pembentukan tim Six Sigma, dan pembuatan flow proses produksi. Measure terdapat 3 jenis cacat yang prosentasenya lebih besar dari jenis cacat yang lain yaitu jenis cacat berat tidak stabil (termasuk kopong) dan korep, prosentase untuk berat tidak stabil (termasuk kopong) sebesar 41,9% dan cacat korep sebesar 21,03%, dari ketiga cacat didapat nilai DPMO sebesar 7776 dan level sigma sebesar 3,9. Dengan melihat FMEA dan RPN maka alternatif perbaikan yang bisa dilakukan yaitu perusahaan sebaiknya membuat instruksi kerja, dari hasil penerapan instruksi kerja di proses pelintingan, diperoleh penghematan sebesar Rp. 3.942.975 selama 1 bulan.

 

Keyword : Six Sigma, DPMO, FMEA, ISO 9001:2000, Kualitas

 

Related Link : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/316/jiptummpp-gdl-s1-2009-fariswidhi-15767-PENDAHUL-N.pdf


Keywords


Six Sigma; DPMO; FMEA; ISO 9001:2000; Kualitas; UMM