PENGUJIAN KHAMIR UNTUK MENGHAMBAT PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA BUAH APEL (Malus sylvestris Mill.) DI LABORATORIUM

ANIS USWATUL HASANAH

Abstract


Prospek pemasaran buah apel cerah, Menurut data pada Biro Pusat Statistik tahun 2001, tentang impor buah apel yang mencapai 124.000 ton, yang terutama berasal dari Selandia Baru dan Amarika Serikat. Salah satu kendala di dalam budidaya apel adalah adanya penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum gloeosporioides Penz. (Semangun, 1991), yang terutama muncul pada periode pascapanen meskipun serangan sudah dimulai sejak di lapangan atau periode prapanen (Moline, 1993 dalam Martoredjo et al., 1997). Serangan utama patogen penyakit antraknosa adalah bagian tanaman apel yang bernilai ekonomis yaitu pada buah apel. Penyakit ini berakibat sangat menurunkan kualitas buah apel, sehingga perlu diperhatikan cara pengendaliannya. Alternatif pengendalian adalah dengan memanfaatkan mikroba yang ada di permukaan tanaman, baik itu pada permukaan daun maupun permukaan buah. Indratmi (2001) bahwa mikroba yang berasal dari permukaan daun ataupun buah dapat menghindarkan infeksi patogen yang distimulasi oleh nutrien yang berasal dari permukaan daun dan buah. Striling, et al., (1999 dalam Yuliyatin, 2004) menunjukkan bahwa mikrobia pada permukaan daun yang terdiri dari jamur, khamir, dan bakteri memberikan penekanan alami terhadap Colletotrichum gloeosporioides pada buah apel. McLaughlin et al. (1990), Candida sp. dan khamir merah Sporobolomyces reseus memberikan hasil yang baik sebagai agensi biokontrol Botrytis cyneria dan Penicillium expansum patogen penyebab busuk buah pada apel. Indratmi (2000) menunjukkan bahwa khamir fruktoplan lebih potensial dikembangkan sebagai agensia pengendali hayati terhadap Colletotrichum gloeosporioides dari pada inokulum jamur.
Penelitain ini bertujuan untuk mengetahui patogen penyebab penyakit antraknosa pada apel dan mengetahui daya hambat dari isolat khamir terhadap pertumbuhan patogen penyebab penyakit antraknosa pada apel di laboratorium.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pertanian dan Laboratorium Pusat Pengembangan Bioteknologi (PUSBAG-BIOTEK) Universitas Muhammadiyah Malang pada bulan Juni sampai dengan bulan Desember 2004. Metode Penelitian dilakukan dilaboratorium dengan dua pengujian. Pengujian yang pertama adalah uji daya antagonis khamir terhadap patogen antraknosa pada media agar dan pengujian yang kedua adalah uji potensi khamir terhadap jamur patogen pada buah. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) sederhana dengan 4 perlakuan diulang 5 kali untuk uji yang pertama dan untuk uji yang kedua ada 7 perlakuan yang diulang 3 kali.
Variabel pengamatannya meliputi : pengujian pertama adalah persentase penghambatan, pengujian kedua adalah lama penghambatan, diameter bercak, populasi khamir.
Hasil penelitain menunjukkan bahwa patogen penyebab penyakit antraknosa pada apel adalah Colletotrichum gloeosporioides dengan adanya gejala bercak kecil berwarna kecoklatan yang lama-kelamaan akan meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman. Semua isolat khamir pada uji antagonis mampu menekan pertumbuhan patogen penyebab penyakit antraknosa dengan persentase penghambatan berturut-turut isolat Shizosaccharomyces sp. (19,09%), isolat campuran (23,05%) dan yang tertinggi dimiliki oleh isolat Debaryomyces sp. sebesar 24,26%. Isolat khamir dapat menurunkan diameter bercak penyebab penyakit antraknosa tertinggi yaitu pada perlakuan Debaryomyces sp. sebesar 27,69% pada apel pada uji potensi di buah.

Keywords


pengujian khamir; penyakit antraknosa