PENGARUH PENAMBAHAN IAA, AIR KELAPA DAN EKSTRAK TAOGE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TIGA JENIS JAMUR TIRAM

Dian Tri Kurniawanti

Abstract


penambahan IAA, Air Kelapa, Ekstrak Taoge dan jenis jamur tiram terhadap peubah saat muncul badan buah pertama (HSI), saat panen jamur pertama (HSI) dengan kombinasi perlakuan terbaik pada kedua peubah ini adalah Tiram Merah dan Air Kelapa . Hal ini diduga disebabkan oleh banyaknya nutrisi yang terkandung pada media dengan adanya penambahan IAA, Air Kelapa, dan Ekstrak Taoge selain itu dipangaruhi oleh adanya pengaturan kondisi lingkungan pada saat pemeliharaan yang biasa disebut dengan Raising. Menurut Setiawati dan Juhiya (2000), Raising dapat dilakukan dengan menurunkan temperatur dan sekaligus menyemprotkan bahan yang mengandung hormon pertumbuhan ke permukaan log yang kontak udara. IAA, Air kelapa atau ekstrak taoge dapat dipakai sebagai sumber hormon tersebut. Dengan cara ini pertumbuhan tubuh buah akan mencapai dua kali lipat.
Peubah yang lain tidak terjadi interaksi antara perlakuan penambahan IAA, Air Kelapa dan Ekstrak Taoge terhadap jenis jamur. Peubah pertumbuhan miselium terbaik adalah perlakuan jenis jamur Tiram Merah (K1). Peubah saat muncul badan buah kedua dan ketiga serta pada peubah saat panen jamur kedua dan ketiga sama-sama tidak dipengaruhi oleh perlakuan penambahan IAA, Air Kelapa dan Ekstrak Taoge. Hal ini diduga karena hormon yang ditambahkan kedalam media tidak dapat terurai karena kandungan nutrisi berkurang. Hal ini mungkin saja terjadi karena kandungan nutrisi sudah dimanfaatkan terlebih dahulu pada pembentukan badan buah dan saat panen yang pertama. Peubah jumlah badan buah panen pertama hingga panen ketiga dipengaruhi oleh perlakuan jenis jamur dengan hasil terbaik adalah perlakuan K1 (Tiram Merah). Hal ini diduga karena jenis jamur tiram merah dapat menyerap dan memanfaatkan dengan baik kandungan nutrisi yang tersedia dalam media untuk pertumbuhan jamur. Peubah diameter badan buah (besar, sedang dan kecil) tidak dipengaruhi oleh penambahan IAA, Air Kelapa dan Ekstrak Taoge. Hal ini diduga jamur tidak dapat memanfaatkan kandungan nutrisi dan hormon yang terkandung dalam media untuk pertumbuhan jamur. Peubah berat basah jamur (g), interval panen (hari) dan efisiensi biologis sama-sama dipngaruhi oleh penambahan IAA, Air Kelapa dan Ekstrak Taoge dengan hasil terbaik pada jenis jamur adalah K2 (Tiram Putih) dan V2 (Air Kelapa) pada peubah diameter badan buah jamur. Peubah berat basah jamur hasil terbaik adalah K2 (Tiram Putih) dan V1(IAA). Peubah interval panen jamur perlakuan K1 (Tiram Merah) dan V1 (IAA) merupakan hasil terbaik. Perlakuan K2 (Tiram Putih) dan V0 (kontrol) adalah hasil terbaik pada peubah efisiensi biologis.
Hasil analisa laboratorium tentang kandungan lemak dan karbohidrat, kombinasi perlakuan K1V3 (Tiram Merah dan Ekstrak Taoge) cenderung menunjukkan hasil terbanyak dibandingkan dengan kombinasi perlakuan yang lain. Analisis kandungan protein dan serat kasar, kombinasi perlakuan K2V3 (Tiram Putih dan Ekstrak Taoge) merupakan hasil terbaik dari perlakuan yang lain.
Sehingga dari hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa terjadi interaksi pada peubah saat muncul badan buah pertama (HSI) dan saat panen jamur pertama (HSI). Perlakuan jenis jamur tiram merah merupakan jenis jamur yang memiliki pertumbuhan miselium yang paling cepat, jumlah badan buah panen pertama (buah), interval panen (hari). Penambahan IAA, Air Kelapa dan Ekstrak Taoge hanya memberikan pengaruh nyata saja pada peubah jumlah badan buah panen kedua dan ketiga, saat panen jamur kedua dan ketiga, diameter badan buah, berat basah. 

Keywords


air kelapa; ekstrak taoge