PENGARUH KONSENTRASI ASAM KLORIDA (HCl) DAN SUHU TERHADAP EFISIENSI EKSTRAKSI CHITIN – CHITOSAN KASAR DARI CANGKANG KEPITING BAKAU (Scylla sp.)

Rr. Shanti Radyati Wahyuni

Abstract


Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Dengan jumlah pulau 17.508 dan panjang pantai 81.000 km, Indonesia tidak perlu mengimpor biopolimer yang bernilai tinggi serta memiliki sifat fungsional yang luas untuk berbagai macam industri. Biopolimer semacam alginat, chitin, dan chitosan bisa dibuat dari berbagai kekayaan laut yang tersebar di seluruh Indonesia.
Kepiting merupakan salah satu komoditi penting perikanan yang saat ini sedang mengalami produksi, baik diperoleh dari usaha penangkapan di alam maupun dari hasil budidaya. Diantara semua jenis kepiting hanya beberapa jenis yang telah dikenal karena kelezatannya sebagai makanan. Permintaan yang terus meningkat ini bukan hanya disebabkan oleh rasa dagingnya yang sangat gurih, tetapi juga disebabkan oleh kandungan gizinya yang cukup tinggi. Setiap 100 gram daging kepiting mengandung protein sebesar 13,6 gram, lemak 3,8 gram, hidrat arang 14,1 gram dan air sebanyak 68,1 gram (Afrianto dan Liviawaty, 1992). Karena, permintaan yang semakin meningkat itulah komoditi kepiting ini berarti akan meningkatkan jumlah limbah yang dihasilkan. Limbah tersebut berupa kulit dan cangkang kepiting. Kebanyakan manusia di dunia mengkonsumsi kepiting hanya dagingnya saja yang rata–rata 20 % dari beratnya, sehingga 80 %-nya berupa limbahnya. Hal ini dapat membuat jumlah limbah dari kulit dan cangkang sangat besar seiring dengan hasil produksi kepiting di Indonesia yang terus meningkat. Oleh karena itu memerlukan penanganan lebih lanjut agar mendapatkan hasil temuan yang terbaru guna menunjang perkembangan ilmu dan teknologi yaitu dengan ekstraksi chitin – chitosan dalam bentuk kasar.
Sumber chitin di alam ada bermacam-macam, tetapi sampai saat ini sumber utama yang praktis dieksplorasi adalah cangkang binatang laut berkulit keras yang secara ekonomi potensial seperti udang-udangan, kepiting, lobster dan sebagainya. Ekstrak chitin – chitosan kasar sangat peka terhadap suhu, kondisi asam – basa, dan proses pengolahan (ekstraksi). Agar menghasilkan chitin dan chitosan yang baik dapat dilakukan dengan penggunaan konsentrasi HCl dan suhu yang sesuai. Asam klorida (HCl) tersebut digunakan sebagai bahan pengekstrak sehingga diharapkan akan menghasilkan tingkat kemurnian chitin – chitosan yang bagus.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya interaksi antara asam klorida (HCl) dan suhu terhadap efisiensi ekstraksi cangkang kepiting bakau (Scylla sp) dalam menghasilkan chitin/chitosan yang maksimal dan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi asam klorida (HCl) dan suhu terhadap efisiensi ekstraksi chitin/chitosan cangkang kepiting bakau (Scylla sp.). Diduga adanya interaksi antara perlakuan konsentrasi HCl dan suhu terhadap efisien ekstraksi chitin – chitosan dari cangkang kepiting bakau (Scylla sp.).
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang pada tanggal 14 Agustus – 28 Oktober 2003. Dengan menggunakan metode rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial, dengan 3 (tiga) kali ulangan. Faktor I: Konsentrasi HCl 0,75 N (P1), Konsentrasi HCl 1 N (P2), Konsentrasi HCl 1,25 N (P3) dan faktor II: Suhu pemanasan 60?C (T1), Suhu pemanasan 80?C (T2), Suhu pemanasan 100?C (T3). Adapun peubah yang diamati adalah rendemen, kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar kalsium sisa untuk chitin kasar dan untuk chitosan kasar hanya ditambah dengan tingkat viskositas.
Perlakuan terbaik untuk chitin dan chitosan dimiliki oleh perlakuan konsentrasi HCl 1,25 N dan suhu 100?C ? 5?C (P3T3) dengan nilai produk 0,350 untuk chitin dengan nilai kadar air 0,101 %, kadar protein 0,057 %, kadar kalsium sisa 0,094 %, kadar abu 0,094 %, rendemen 0,004 % dan untuk chitosan sebesar 0,374 dengan nilai kadar air 0,094 %, kadar protein 0,094 %, kadar kalsium sisa 0,084 %, kadar abu 0,094 %, rendemen 0 % dan viskositas 0,008 cps.

Keyword : KEPITING BAKAU

Link terkait : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/16/jiptummpp-gdl-s1-2004-rrshantira-769-Pendahul-n.pdf


Keywords


KEPITING BAKAU