ANALISIS EFISIENSI BUDIDAYA ANGGREK HALAENOPSIS SISTEM FERTIGASI DAN SISTEM KONVENSIONAL

Eny Purwiningsih

Abstract


Bunga bagi banyak orang sudah menjadi kebutuhan dalam hidupnya, tidak hanya sebagai tanaman hias, tetapi dalam acara-acara tertentu seperti acara ritual keagamaan, pernikahan dan acara-acara lain yang menonjolkan sisi keindahan bunga untuk lebih menyegarkan suasana. Bagi kolektor tanaman bunga, anggrek bisa menjadi salah satu alternatif pilihan sebagai tanaman koleksi. Anggrek dipilih menjadi tanaman koleksi karena keindahan bunganya, warnanya yang beraneka ragam, keunikan bentuknya dan daya tahan bunganya yang relatif lebih lama daripada jenis bunga lain. Anggrek Phalaenopsis daya tahan bunganya bisa mencapai 2-3 bulan menjadi pilihan bagi pecinta bunga sebagai hiasan, khususnya untuk hiasan dalam ruangan. Meskipun harganya yang relatif lebih mahal dari pada jenus anggrek lain, tapi permintaan anggrek Phalaenopsis semakin banyak. Banyaknya permintaan anggrek Phlaenopsis membuat petani mencoba sistem baru yang lebih efisiensi dalam budidaya anggrek, khususnya anggrek Phalaenopsis supaya produksinya lebih banyak. Sistem baru ini banyak dikenal oleh banyak orang dengan nama fertigasi. Oleh karena itu perlu dilaksanakan penelitian untuk mengetahui efisiensi biaya budidaya Anggrek Phalaenopsis dengan judul ?Analisis Efisiensi Budidaya Anggrek Phalaenopsis Sistem Fertigasi Dan Sistem Konvensional?.
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui biaya usaha, pendapatan usaha, dan efisiensi budidaya anggrek Phalaenopsis pada sistem fertigasi dan sistem konvensional. Penentuan objek penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu di usaha atau kebun anggrek yang ada di Batu dan Malang. Objek penelitian budidaya anggrek sistem fertigasi yaitu di ?Soerjanto Orchid? dan usaha anggrek Bapak Sugeng, sedangkan Objek penelitian budidaya anggrek sistem konvensional yaitu di?Handoyo Hardjo Orchid? dan usaha anggrek Ibu Sutin.
Data yang digunakan dalam penelitian adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dan pemberian kuisioner pada petani anggrek dimana penelitian tersebut dilaksanakan. Data sekunder diperoleh dari berbagai media cetak dan media on line selain dari berbagai buku referensi dan literatur yang berkaitan dengan penelitian ini.
Metode Analisa Data yang digunakan adalah analisa biaya, analisa penerimaan, dan R/C rasio. Analisa data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa deskriptif yang dengan memberikan gambaran, uraian secara mendetail berdasarkan pada data yang ada. Tujuan analisa data adalah menyederhanakan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca disesuaikan dengan hasil pengamatan secara langsung.
Hasil penelitian menujukkan bahwa, rata-rata biaya tetap yang harus dikeluarkan oleh petani budidaya anggrek Phalaenopsis sistem fertigasi, untuk tiap aklimatisasi (proses pengeluaran anggrek dari dalam botol) yaitu selama usia 0 bulan sampai 1,5 tahun sebesar Rp 3.206.756,98, sedangkan rata-rata biaya tetap yang harus dikeluarkan petani anggrek Phalaenopsis sistem konvensional sebesar Rp 2.954.987,755. Dari perhitungan diketahui bahwa rata-rata biaya tetap budidaya anggrek Phalaenopsis sistem fertigasi lebih besar daripada budidaya anggrek Phalaenopsis dengan sistem konvensional.
Rata-rata biaya tidak tetap yang harus dikeluarkan oleh petani anggrek pada sistem fertigasi sebesar Rp 907.521,825 selama 1,5 tahun, sedangkan rata-rata biaya tidak tetap yang harus dikeluarkan oleh petani anggrek pada sistem konvensional sebesar Rp 764.345,522 selama 1,5 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata biaya tidak tetap yang harus dikeluarkan oleh petani anggrek pada sistem fertigasi lebih besar dari pada rata-rata biaya yang harus dikeluarkan oleh petani anggrek pada sistem konvensional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya total (Total Cost) yang harus dikeluarkan oleh petani anggrek pada budidaya sistem fertigasi sebesar Rp 4.093.888,18 dan budidaya sistem konvensional sebesar Rp 2.900.489,337 Dari perhitungan rata-rata biaya total di atas, menunjukkan bahwa biaya total budidaya anggrek pada sistem fertigasi lebih besar dari pada biaya total budidaya anggrek pada sistem konvensional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata penerimaan petani budidaya anggrek Phalaenopsis dengan sistem fertigasi selama 1,5 tahun sebesar Rp 7. 845.500 untuk 30 bibit botol anggrek Phalaenopsis, sedangkan rata-rata penerimaan petani budidaya anggrek Phalaenopsis dengan sistem konvensional selama 1,5 tahun sebesar Rp 3.255.000 untuk 30 bibit botol anggrek Phalaenopsis. Dari perhitungan diatas dapat diketahui bahwa rata-rata penerimaan budidaya anggrek Phalaenopsis dengan sistem fertigasi lebih besar daripada rata-rata penerimaan budidaya anggrek Phalaenopsis sistem konvensional.
R/C rasio untuk budidaya anggrek Phalaenopsis sistem fertigasi di ?Soerjanto Orchid ? sebesar 1,317 artinya bahwa setiap Rp 1,00 dari biaya yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1,317. R/C rasio usaha anggrek Bapak Sugeng sebesar 3,193, artinya bahwa setiap Rp 1,00 dari biaya yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan sebesar Rp 3,193.
R/C rasio untuk budidaya anggrek Phalaenopsis sistem konvensional di ?Handoyo Hardjo Orchid? sebesar 1,001 artinya bahwa setiap Rp 1,00 dari biaya yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1,001.R/C rasio usaha anggrek Ibu Sutin sebesar 1,853 artinya bahwa setiap Rp 1,00 dari biaya yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1,853.
R/C rasio > 1, artinya budidaya anggrek Phalaenopsis dengan sistem fertigasi dan sistem konvensional sama-sama layak untuk diusahakan dan memberikan keuntungan bagi petani. Namun, keuntungan yang diperoleh petani anggrek Phalaenopsis sistem fertigasi lebih besar dari pada petani anggrek Phalaenopsis sistem konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa budidaya anggrek Phalaenopsis dengan sistem fertigasi lebih efisiensi dari pada budidaya anggrek Phalaenopsis dengan sistem konvensional.

Keyword : ANGGREK PHALAENOPSIS

Link terkait : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/64/jiptummpp-gdl-s1-2005-enypurwini-3167-Pendahul-n.pdf


Keywords


ANGGREK PHALAENOPSIS