Pola Contrack Farming Petani Jagung (Zea Mays L) Dengan Pt Dupont Indonesia (Studi Kemitraan Petani Jagung Di Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar Dengan Pt Dupont Indonesia)

Khonathul Hayati

Abstract


Adanya perubahan berusahatani dengan orientasi atau peningkatan produksi semata-mata kearah sumberdaya yang optimal yaitu memperoleh hasil yang lebih besar. Dengan adanya persaingan dalam perdagangan Internasional yang terbuka dan trasparan mengharuskan pembangunaan pertanian difokuskan pada komoditas unggulan yang dapat bersaing dipasar domestik maupun Internasional. Keadaan seperti ini akan mengarah pada pertanian modern dengan pendekatan agribisnis
Namun disatu sisi masih ditemukan kendala-kendala yang akan menjadi penghambat dalam pendekatan agribisnis ini. Seperti keterbatasan modal dan pengetahuan atau teknologi. Kendala-kendala ini juga ditemukan pada petani jagung, salah satunya adanya keterbatasan dalam penggunaan benih bibit hibrida.
Pengembangan industri pertanian (agroindustri) dengan pola kemitraan diharapkan dapat mengatasi kendala-kendala tersebut. Seperti halnya dengan PT. DuPont yang bermitra dengan kelompok tani Rukun Tani dan Rukun Tani Makmur dalam hal penanaman benih jagung hibrida pioneer yang berlangsung kurang lebih tujuh tahun. Keberhasilan dalam pola contrack farming ini dapat dilihat dari bertambahnya pengetahuan atau ketrampilan, teknologi usahatani yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan sehingga kesejahteraan masyarakat dapat dicapai
Dari latar belakang tersebut maka permasalahan yang dapat ditemukan adalah (1) Bagaimana pelaksanaan contrack farming antara PT.DuPont Indonesia dengan kelompok tanidi Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. (2) bagaimana produktivitas petani jagung dengan pelaksanaan contrack farming dengan yang tidak menggunakan contrack farming. (3) Bagaiman pendapatan petani jagung dengan pelaksanaan contrack farming dengan yang tidak menggunakan contrack farming. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui Bagaimana pelaksanaan contrack farming antara PT.DuPont Indonesia dengan kelompok tani di Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. (2) Untuk mengetahui bagaimana produktivitas petani jagung dengan pelaksanaan contrack farming dengan yang tidak menggunakan contrack farming. (3) Untuk mengetahui Bagaimana pendapatan petani jagung dengan pelaksanaan contrack farming dengan yang tidak menggunakan contrack farming.
Penelitian dilakukan di Desa papungan, kecamatan Kanigoro, kabupaten Blitar secara sengaja (purposive). Dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan derahpenanaman benih jagung hibrida pioneer yang dilakukan secara proposional stratifed random sampling, yaitu membagi populasi menjadi 3 strata berdasarkan luas lahan yang diusahakannya sehingga diperoleh jumlah sampel yang diambil adalah 52 orang, sedangkan untuk petani non-kemitraan jumlah sampel yang diambil 21 orang, karena didaerah tersebut hanya terdapat 21 orang petani itu saja yang tidak mengikuti kemitraan
Analisis yang digunakan adalah (1) analisis diskriptif kualitatif yaitu berupa kata-kata secara sistematis dan akurat mengenai fakta-fakta serta sifat hubungan antar fenomena yang diteliti untuk mendukung analisis ini. (2) Analisis biaya dan pendapatan menggunakan analisis usahatani dengan pendekatan ekonomis.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Pelaksanaan pola contrack farming antara PT. DuPont Indonesia dengan kelompok tani Rukun tani dan Rukun tani makmur di Desa papungan Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Malang sudah berjalan dengan baik namun masih ada yang belum sesuai dengan isi kontrak atau perjanjian mengenai hak dan kewajiban kedua belah pihak. (2) Tingkat produktivitas usahatani jagung yang dicapai melalui pola contrack farming adalah 5500 kg/ha, hal ini lebih rendah apabila dibandingkan tingkat produtivitas petani non-kemitraan yang sebesar 7200 kg/ha. (3) tingkat pendapatan usahatani jagung dengan pola contrack farming antara PT. DuPont Indonesia dengan kelompok tani Rukun tani dan Rukun tani makmur di Desa papungan Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Malang mampu memberikan pendapatan lebih baik yaitu rata-rata sebesar Rp 1.197.650,-/ha, walaupun secara umum perbedaan pendapatan antara petani peserta kemitraan dan non-kemitraan tidak terlalu besar.
Saran untuk penelitian ini adalan (1) Agar pelaksanaan pola contrack farming dapat berjalan sesuai dengan isi perjanjian mengenai hak dan kewajiban maka perlu dipertegas dengan memberikan sangsi bagi pihak yang melanggar perjanjian tersebut. (2) Bagi pihak perusahaan agar meninjau kembali system kerjasama usahatani jagung dengan system paket tersebut agar pada musim tanam yang akan datang tidak ditinggalkan petani dan tidak terlalu merugikan petani, baik dalam hal bantuan saprodi. (3) Produktivitas yang kurang dibandingkan dengan petani non-kemitraan sebaiknya diadakan perbaikan baik dalam hal penanaman sampai pada proses quality, dan juga diimbangi dengan harga yang baik. Selain itu harga dasar lebih baik ditentukan kerena merupakan hak petani untuk mengetahui harga dasar.

Keyword : Petani Jagung; Pola Contrack Farming

Link terkait : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/64/jiptummpp-gdl-s1-2005-khonathulh-3174-Pendahul-n.pdf


Keywords


Petani Jagung; Pola Contrack Farming