STUDI KOMPARATIF USAHATANI BAWANG PREI (Allium porum L) POLA KEMITRAAN DAN NON KEMITRAAN(Study Kasus di Desa Tulung Rejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu)

ONY ZAKY ABDILLAH

Abstract


PT Indofood Sukses Makmur Tbk merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pertanian, dimana dalam pengembangan usahanya banyak melakukan terobosan-terobosan dengan melakukan kerjasama, menjalin kemitraan dengan pihak lain, baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri. Untuk memenuhi pasar domestik dan luar negeri PT Indofood Sukses Makmur Tbk menjalin kemitraan dengan petani-petani yang ada di Kota Batu.
Pola kemitraan yang dilaksanakan oleh Indofood Sukses Makmur Tbk. dalam rangka mengembangkan usaha tani bawang prei (Allium porum L) sebagai strategi untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dalam pemenuhan bahan baku produksi bumbu dan sayuran kering. Sedangkan bagi petani plasma dengan mengikuti pola kemitraan diharapkan dapat meningkatkan pendapatannya.
Oleh karena itu dalam pelaksanaan pola kemitraan tersebut, pihak PT Indofood Sukses Makmur Tbk. mengadakan pembinan di desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu sebagai mitra kerjanya. Dalam kerja sama tersebut pihak PT Indofood Sukses Makmur Tbk. memberikan bantuan kredit berupa pupuk, bibit dan pestisida, transfer teknologi, penyuluhan dan jaminan pasar. Sedangkan petani harus menyediakan lahan, memelihara tanaman dan menyerahkan seluruh hasil pada saat panen kepada PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Agar pelaksanaan pola kemitraan dapat berjalan baik dan lancar, maka perlu kerjasama yang baik antara kedua belah pihak yang saling menguntungkan sehingga dapat berjalan dengan efektif.
Dengan metode pengambilan contoh secara acak sederhana (simple random sampling) untuk petani yang bermitra dengan pihak PT Indofood Sukses Makmur dan pengambilan petani contoh dengan secara kebetulan (accidental sampling) untuk petani yang menanam bawang prei varietas lokal dan tidak bermitra dengan pihak PT Indofood Sukses Makmur. Masing-masing petani contoh diambil 20 orang untuk diambil datanya.
Dengan hasil uji beda rata-rata total biaya produksi perhektar pada pola non kemitraan lebih besar dari pada total biaya biaya pada pola kemitraan ini terjadi karena besarnya biaya tenaga kerja yang dipakai pada pola non kemitraan yang tidak membedakan pekerja dengan anggota keluarga. Sedangkan hasil produksi yang telah dicapai petani pola kemitraan adalah 49.974 kilogram per hektar permusim sedangkan pola non kemitraan adalah 28.158 kilogram perhektar permusim. Besar rata-rata penerimaan dari petani kemitraan adalah Rp. 37.605.453,- per hektar untuk pola non kemitraan adalah sebesar Rp. 38.429.988,- per hektar ini terjadi karena pada saat data diambil rata-rata harga bawang prei lokal mencapai Rp 1.278,- perkilogram ditingkat tengkulak sedangkan bawang prei leek hanya Rp 750,- perkilogram.
Besarnya pendapatan usahatani dari pola kemitraan rata-rata perhektarnya adalah Rp. 20.308.725,- sedangkan besar rata-rata pendapatan perhektar pola non kemitraan adalah Rp. 17.104.440,-. Rata-rata efisiensi perhektar pada pola kemitraan lebih besar dari pada rata-rata efisiensi perhektar pada pola non kemitraan, ini terjadi karena nilai efisiensi petani pola kemitraan lebih besar dari pada non kemitraa

Keyword : USAHATANI; BAWANG PREI; POLA KEMITRAAN
NON KEMITRAAN

Link terkait : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/62/jiptummpp-gdl-s1-2005-onyzakyabd-3075-Pendahul-n.pdf


Keywords


USAHATANI; BAWANG PREI; POLA KEMITRAAN NON KEMITRAAN