PENGARUH INTERVAL PEREMPELAN TUNAS AIR DAN MACAM PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN CABAI MERAH BESAR(Capsicum annum L.) Varietas Hot Beauty

Puji Setiani

Abstract


Cabai merupakan komoditas sayuran yang sangat penting, semua orang memerlukannya, tak heran bila volume peredaran cabai dipasaran sangat banyak jumlahnya. Mulai dari pasar rakyat, pasar swalayan, warung pinggir jalan, rumah makan dan lain sebagainya. Untuk sementara ini permintaan cabai ditingkat nasional masih dipenuhi pasokan cabai dari daerah sentra produksi.
Di daerah sentra produksi cabai sepeti di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan, umumnya sistem budidayanya masih sangat tradisional, seperti hanya mengandalkan populasi tanaman yang tinggi tanpa diimbangi dengan penerapan teknologi budidaya yang intensif, sehingga hasil produk per hektarnya masih rendah.
Produksi rata-rata cabai di sentra penanaman sampai tahun 1993 berkisar 842,015 ton per tahun. Dari jumlah tersebut pulau Jawa memasok sebesar 484,36 ton, sisanya dari luar Jawa. Secara nasional rata-rata hasil per hektar masih tergolong rendah, yaitu 48,93 kw/ha dengan luas panen sebanyak 171,895 ha.
Tujuan dari penelitian ini adanya pengaruh antara perlakuan interval perempelan dan macam pupuk daun terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai besar ( Capsicum annum L.) varietas hot beauty.
Diduga terdapat interaksi dan pengaruh yang nyata antara perlakuan interval perempelan dan macam pupuk daun terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai besar (Capsicum annum L.) varietas hot beauty.
Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Desa Tegal gondo, Kec. Karang ploso, Kab. Malang, dengan ketinggian tempat 550 meter di atas permukaan laut, pada bulan September 2001 sampai Januari 2002. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: Benih tanaman cabai besar, pupuk daun Gandasil Budaya perusahaan, pupuk daun Bayfolan, pupuk kandang ayam, Npk dan pestisida. Alat-alat yang dipakai dalam penelitian ini antara lain: cangkul, timba, meteran, penggaris, jangka sorong, handsprayer, semprotan, sabit, timbangan analitik, garpu dan cetok.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial, yang terdiri dari 2 faktor dan 3 kali ulangan, sehingga didapatkan 12 petak percobaan.
Pengamatan dilakukan sejak 16 hari setelah tanam, pengamatan dilakukan secara Non Destruktif dan Destruktif. Parameter Non Destruktif meliputi : Tinggi tanaman, Jumlah daun, Luas daun Dan Diameter batang. Sedangkan parameter Destruktif meliputi: Jumlah bunga per tanaman, Jumlah bunga jadi buah, Jumlah buah per tanaman sebelum panen, Jumlah buah panen per tanaman, Jumlah buah total panen per tanaman, Berat buah panen per tanaman, Berat buah penen pertanaman, panjang buah dan Diameter buah.
Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa perlakuan interval perempelan dan macam pupuk daun menunjukan interaksi yang nyata pada fase generatif antara lain pada parameter Jumlah Buah per tanaman sebelum panen umur 66 HST, Jumlah Buah Panen per Tanaman umur 96 HST, Berat Buah Panen per Tanaman umur 96 HST dan Diameter Buah umur 106 HST.
Perlakuan P0 (tanpa perempelan tunas air), menunjukkan pengaruh yang sangat nyata pada parameter Jumlah buah total panen per tanaman dan P1 (perempelan interval 5 hari) berpengaruh sangat nyata terhadap Jumlah bunga jadi buah.. Perlakuan P0 (tanpa perempelan tunas air) berpengaruh nyata terhadap Jumlah daun umur 26, 46, 56, 66 dan 76 HST, Luas daun umur 46 HST dan Diameter batang umur 66 dan 76 HST, Jumlah buah panen per tanaman umur 86, 101 dan 106 HST, Berat buah panen per tanaman umur 86, 101 dan 106 HST dan berat buah total panen per tanaman. Perlakuan P3 (perempelan tunas air dengan interval 15 hari) berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga per tanaman.
Perlakuan macam pupuk daun menunjukkan pengaruh yang nyata pada parameter Jumlah buah per tanaman umur 66 HST, Jumlah buah panen per tanaman, Berat buah panen per tanaman umur 96 HST dan Diameter buah umur 106 HST.
Pada fase vegetatif tanaman, perlakuan P0 (tanpa perempelan tunas air). Memberikan rata-rata yang terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa perempelan tunas air maka pertumbuhan vegetatif tanaman akan dapat berlangsung dengan baik, dimana jumlah daun, luas daun dan diameter batang yang semakin meningkat maka tanaman akan semakin efisien dalam melakukan proses fotosintesis dan memanfaatkan unsur hara yang diambil tanaman bersama air yang akan digunakan untuk membentuk karbohidrat.
Pada fase generatif tanaman, perlakuan perempelan tunas air menunjukkan paling berperan dalam pertumbuhan. Perlakuan P3 (perempelan interval 15 hari) menunjukkan hasil yang lebih baik, hal ini disebabkan karena dengan luka yang cukup lebar maka nutrisi yang dibawa oleh jaringan xylem menuju keluar terhambat pada luka peremp?lan, begitu juga dengan nutrisi yang dibawa oleh jaringan floem menuju kedalam juga terhambat. Dengan terjadinya peristiwa ini maka nutrisi yang dibawa oleh jaringan xylem dan floem tadi akan berada pada luar luka perempelan dan membentuk tunas-tunas baru yang menghasilkan bunga dan buah.
Pada perlakuan macam pupuk daun tidak memberikan pengaruh pada hampir semua perlakuan, hal ini disebabkan karena waktu pemberian yang tidak dilakukan dengan sekat, sehingga mengenai tanaman yang seharusnya tidak diberi perlakuan sama.

Keyword : CABAI MERAH BESAR

Link terkait : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/63/jiptummpp-gdl-s1-2005-pujisetian-3137-Pendahul-n.pdf


Keywords


CABAI MERAH BESAR