Department of Agribisnis, 2003

Font Size:  Small  Medium  Large   Print Page

PROSES ADOPSI DAN DIFUSI TEKNOLOGI SISTEM PERTANIAN ORGANIK (Studi Kasus Usahatani Padi Organik di Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro dan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto)

ADY PURWANTO

Abstract


Keberadaan sistem pertanian konvensional dengan teknologi intesifikasinya telah membuat terjadinya peningkatan pada aspek produksi dan ekonomi di sektor pertanian Indonesia, tetapi pada satu sisi setelah sistem tersebut berjalan selama 3 (tiga) dekade, keberhasilan tersebut ternyata diiringi dengan terjadinya degradasi terhadap lingkungan pertanian, ketergantungan petani terhadap tiga komponen revolusi hijau (pupuk kimia, pestisida, dan benih unggul) dan lunturnya kearifan-kearifan lokal pada diri petani. Sehingga secara tidak langsung hal tersebut akan mempengaruhi terjadinya penurunan tingkat pendapatan dan kualitas hidup pada petani, dimana munculnya permasalahan tersebut merupakan salah satu dari permasalahan dalam pembangunan sektor pertanian di Indonesia yang harus segera diatasi.
Munculnya teknologi sistem pertanian organik sebagai bagian dari sistem pertanian berkelanjutan yang merupakan salah satu jawaban atas terjadinya degradasi terhadap lingkungan pertanian, ketergantungan petani terhadap komponen revolusi hijau dan lunturnya kearifan-kearifan lokal pada diri petani adalah sangat penting untuk mendapatkan perhatian yang serius untuk mengatasi adanya permasalahan tersebut. Indonesia sistem pertanian organik ini masih merupakan gerakan yang sangat terbatas, yang belum mendapat dukungan sepenuhnya dari pihak pemerintah, peneliti maupun petani, sehingga diperlukan langkah-langkah strategis untuk mengkomunikasikan teknologi sistem pertanian organik kepada masyarakat petani. Oleh karena itu peranan metode pendekatan dalam menyampaikan suatu inovasi agar petani bersedia mengadopsi teknologi tersebut menjadi sangat penting untuk mensosialisasikan sistem pertanian organik, sehingga dalam konteks pemikiran inilah maka proses adopsi dan difusi teknologi, menjadi sangat penting untuk mendapatkan perhatian secara mendalam.
Tujuan penelitian secara umum adalah untuk mengetahui bagaimana proses adopsi dan difusi inovasi sistem pertanian organik. Adapun secara khusus penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang melatarbelakangi petani untuk mengadopsi sistem pertanian organik, mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses difusi inovasi sistem pertanian organik dan mempelajari metode yang digunakan agen perubah (change agents) dalam hal ini adalah Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman yang berperan dalam mengkomunikasikan sistem pertanian organik pada petani sehingga petani mengadopsi sistem pertanian organik.
Penelitian diskriptif yang menggunakan metode penelitian Diskriptif kualitatif, ini dilaksanakan di Desa Kutogirang kecamatan Ngoro-Mojokerto dan di PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto yang ditentukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa di desa Kutogirang terdapat beberapa populasi petani yang menerapkan sistem pertanian organik yang merupakan petani dampingan PPLH. Responden penelitian ini adalah pihak-pihak yang secara sengaja dipilih untuk dapat memberikan penjelasan secara mendalam, mengenai proses adopsi dan difusi sistem pertanian organik yang akhirnya dapat menjawab tujuan dari penelitian, adapun responden tersebut berasal dari kalangan : petani organik, agen pembaharu (PPLH) dan responden kunci (petani, tokoh masyarakat). Sedangkan analisa data mengunakan analisa diskriptif kualitatif, dimana hasil-hasil pengamatan akan dijelaskan secara sistematis, yang ditunjang dengan bukti-bukti di lapangan yang berupa data statistik diskriptif dalam bentuk tabel dan Kemudian untuk hasil wawancara mendalam dengan berbagai responden, yang tidak bisa disajikan dalam bentuk statistik, akan disajikan dalam bentuk penjelasan atau narasi yang disertai dengan foto-foto dan dokumen-dokumen pelengkap lainnya.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa alasan petani mengadopsi sistem pertanian organik adalah disebabkan karena (1) keinginan untuk mencoba dan membuktikan suatu teknologi baru yang dipandang dapat membawa kemanfaatan pada usahataninya, (2) adanya keinginan untuk menjawab adanya tantangan-tantangan permasalahan mengenai kelestarian lingkungan dan membuktikan kebenaran teori yang didapatkannya dari sumber inovasi. (3) keyakinan akan keunggulan dari teknologi sistem pertanian organik. Sedangkan faktor-faktor yag mempengaruhi pegambilan keputusan pengadopsian sistem pertanian organik adalah karena (1), kondisi sistem pertanian intensif, (2) sifat-sifat eknologi sistem pertanian organik (SPO), (3) kondisi sosial ekonomi petani pengadopsi dan (4) pengalaman petani dalam bereksperimen.
Difusi teknologi yang terjadi di desa tersebut adalah menggunakan model difusi interaksi sosial dan top down, yang menggunakan tipe pengambilan keputusan kolektif dan opsional, dimana faktor-faktor yang mepengauhi difusi teknologi SPO adalah disebabkan karena (1) cara pandang petani terhadap sifat teknologi (tujuan utama dan teknifikasi) (1) penguasaan saluran komunikasi, dan (3) karena metode pendekatan dari sumber inovasi. Berdasarkan hasil pengamatan lambatnya difusi SPO adalah disebabkan karena (1) Lemahnya penguasaan saluran komnikasi, (2) Terputusnya sumber inovasi, dan (3) sikap petani yang hanya memadang SPO hanya dari aspek teknis saja sehinga petani enggan untuk adopsi SPO. Sistem pertanian yang ada di desa Kutogirang adalah masih masuk malam masa konservasi, hal ini disebabkan karena masih terbatasnya asupan input organik yang ada di desa tersebut. Sedangkan perubahan yang terjadi setelah adanya SPO adalah terjadinya perubahan dalam hal pengelolaan tanah (pemupukan) dan munculnya prilaku komersialisasi pada petani.
Sedangkan metode yang digunakan sumber inovasi (PPLH Seloliman) adalah selalu berorientasi kepada terwujudnya kelestarian lingkungan. Dimana perangkat-perangkat dalam proses diseminasi teknologi SPO adalah (1) adanya pendamping yang menjembatani antara teknologi dengan klien, (2) metode pendekatan pada klien yaitu pendekatan karitatif, informatif dan transformatif dan (3) model pendidikan dan komunikasi dalam diseminasi teknologi yaitu menggunakan sistem pendidikan dan komunikasi orang dewasa yang didasari dari konsep Paulo Freire

Keyword : PROSES ADOPSI; DIFUSI TEKNOLOGI; PERTANIAN ORGANIK

Link terkait ; http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/63/jiptummpp-gdl-s1-2005-adypurwant-3140-Pendahul-n.pdf



Abstract: PDF , PS , DOC