PENGARUH MACAM SUMBER ZPT ALAMI DAN FREKUENSI PEMBERIANNYA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KENTANG(Solanum tuberosum L.) VARIETAS GRANOLA

Ayu Mahanani

Abstract


Kebutuhan konsumsi kentang Solanum tuberosum L. di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan kebutuhan ini disebabkan karena masyarakat mulai mengetahui banyaknya manfaat yang diperoleh dari umbi kentang Rukmana, 1997.

Beberapa manfaat dari pengolahan kentang tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan kentang di masyarakat, dan untuk memenuhinya diperlukan upaya meningkatkan produksi umbi tanaman kentang. Banyak sekali cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi tanaman kentang, diantaranya adalah dengan menggunakan zat pengatur tumbuh (ZPT).

ZPT dapat juga diberikan pada tanaman disamping melakukan pemupukan untuk memacu pertumbuhan dan meningkatkan produksi. ZPT adalah senyawa organik bukan hara (nutrient) tetapi dapat merubah proses fisiologis tumbuhan. Seringkali pemasokan ZPT secara alami itu di bawah optimal, dan dibutuhkan sumber dari luar untuk menghasilkan respon yang dikehendaki (Gardner dkk., 1991).

Penelitian dilaksanakan dengan hipotesis, pertama, terdapat interaksi antara sumber ZPT alami dan frekuensi pemberiannya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kentang; kedua, perlakuan terbaik adalah perlakuan dengan menggunakan air kelapa yang diberikan dua kali yaitu 24 hst dan 31 hst; ketiga, sumber ZPT alami berpengaruh terhadap pembentukan umbi sehingga dapat meningkatkan hasil umbi tanaman kentang; dan keempat, frekuensi pemberian sumber ZPT alami mempengaruhi pertumbuhan dan hasil umbi tanaman kentang.

Untuk menguji hipotesis, maka pelaksanaan penelitian dilakukan di dusun Simo, desa Sidodadi, Ngantang pada bulan Agustus sampai Oktober. Rancangan yang digunakan adalah RAK Faktorial Kontras Orthogonal yang terdiri dari 2 faktor yang diulang sebanyak 3 kali dan jumlah sampel per perlakuan sebanyak 6 tanaman. Faktor I yaitu Macam sumber ZPT alami (M) yang terdiri dari 4 macam, yaitu M1 Air kelapa tua dengan konsentrasi 100%; M2 Urin sapi dengan konsentrasi 100%; M3 Ekstrak kecambah kacang hijau dengan konsentrasi 40%; M4 Ekstrak kecambah kedelai dengan konsentrasi 20% dan faktor II adalah Frekuensi pemberian ZPT alami (F) yang terdiri dari 2 level, yaitu F1 satu kali, pada 31 hst sebanyak 1000 ml dan F2 dua kali, pertama pada 24 hst sebanyak 500 ml dan yang kedua pada 31 hst sebanyak 500 ml. Peubah yang diamati adalah tinggi tanaman cm, jumlah daun, luas daun cm2, jumlah umbi per tanaman, bobot umbi per tanaman g, bobot rata-rata per umbi g, diameter umbi cm, berat umbi per petak kg, dan berat umbi per hektar t. Hasil perlakuan yang diberikan dibandingkan dengan kontrol (M0) atau tanpa perlakuan. Dari data yang didapat maka dianalisis dengan uji F yang selanjutnya diuji dengan menggunakan uji Duncan?s.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadi interaksi antara sumber ZPT alami dengan frekuensi pemberiannya. Pemberian ekstrak kecambah kacang hijau yang diberikan dua kali menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang terbaik dibandingkan dengan ZPT alami lain atau tanpa ZPT. Perlakuan frekuensi pemberian yang terbaik adalah dua kali, yaitu pada 24 hst dan 31 hst. Saran yang dapat diberikan adalah perlu dilakukan pengujian kadar ZPT dalam sumber ZPT alami agar pada pengaplikasiannya didapatkan hasil yang optimal, konsentrasi pemberian ZPT alami sebaiknya menggunakan yang terbaik, dan frekuensi dan waktu pemberian ZPT perlu lebih bervariasi agar didapatkan hasil yang terbaik.

Keyword : ZPT ALAMI; KENTANG

Link terkait : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/63/jiptummpp-gdl-s1-2005-ayumahanan-3143-Pendahul-n.pdf


Keywords


ZPT ALAMI; KENTANG