Department of Agribisnis, 2007

Font Size:  Small  Medium  Large   Print Page

DIVERSIFIKASI TANAMAN PANGAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL (Studi Kasus di Desa Begadung Kecamatan Nganjuk)

Dwi Maharianto

Abstract


Dalam pertanian tradisional, ada satu aspek penting yang disebut sebagai ?Local atau Indigenous Knowledge (IK)? atau sering disebut sebagai ?Kearifan Lokal/tradisional?. Sistem kearifan lokal dalam bidang pertanian merupakan suatu pengetahuan yang utuh berkembang dalam budaya atau kelompok etnik tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara subsistem sesuai kondisi lingkungan yang ada
Dalam kearifan lokal masyarakat setempat kita akan tahu kebutuhan pangan mereka tidaklah sepenuhnya bergantung pada beras. Kita mengenal istilah ?polo kependem? dan ?polo gumantung? sebagai tanaman pangan serta ditunjang dengan adanya keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan ekosistem mereka. ?polo kependem? sebagai bahan makanan yang ditanam dan berada di dalam tanah maupun diatas tanah tetapi juga bisa digunakan sebagai bahan makanan utama atau makanan pendukung seperti sebagai berikut:
?Ubi jalar, ketela pohon atau umbi, jagung, kacang tanah, uwi, bothe, tales, suweg, mbuli, mbalu, dan lain-lain.
Dan dari kelompok ?polo gumantung? kita tahu beberapa tanaman seperti sebagai berikut:
?Pepaya, gori atau tewel sukun, klentang dan sebagainya.
Kearifan lokal sebagai bentuk tradisi masyarakat tradisional yang kini mulai terpinggirkan karena pengaruh modernitas yang cenderung mengangap hal-hal yang tradisional selalu statis tidaklah benar, kita tahu sendiri kearifan lokal yang tercipta dari kehidupan keseharian masyarakat yang telah berlangsung dari generasi kegenerasi ternyata bersifat dinamis dan selalu bisa berjalan beriringgan dengan perkembangan kemajuan manusia itu sendiri asalkan mereka tetap berpegang teguh pada norma, adat dan tradisi yang ada sebagai bentuk perwujudan dari kearifan lokal itu sendiri yang senantiasa menjaga manusia untuk dapat terus hidup selaras, serasi dan seimbang dengan alam sekitarnya.
Tanaman pangan tetap padi sebagai komoditas utama dan jagung, umbi-umbian serta lainya adalah pendukung. Beras sudah tidak bisa di pisahkan lagi dari kehidupan keseharian masyarakat Desa Begadung dalam upaya pemenuhan kebutuhan pokoknya. Walaupun beras merupakan makanan utama masih bisa dijumpai masyarakat yang senang mengkonsumsi nasi jagung, gaplek aneka umbi-umbian dan olahhanya dan sebagainya sebagai bentuk konsumsi keseharian selain beras.
Masyarakat Jawa yang masih tradisional dalam mengolah dan menjalankan bidang pertaniannya memiliki kearifan lokal yang bisa kita coba jabarkan dengan terlebih dahulu kita kelompokan menjadi tiga kelompok yang nantinya akan mempermudah untuk mengerti makna-makna yang terkandung dalam kearifan lokal tersebut seperti norma, nilai, perilaku, filosofi, filsafat. Pengelompokan kearifan lokal untuk menjelaskan dan mengambarkan kearifan lokal di bidang pertanian adalah sebagai berikut:
?Kearifan lokal dalam bentuk falsafah, wejangan, pitutur atau berupa nasehat dan cerita-cerita yang membangun dari segi multidimensional.
?Kearifan lokal dalam bentuk perilaku, tindakan atau aktivitas kehidupan keseharian yang mencerminkan kultur masyarakat setempat.
?Kearifan lokal dalam bentuk hasil cipta manusia yang dituangkan dalam sebuah bentuk material atau fisik dan juga hasil proses kreatif manusia yang berupa benda atau barang.
Diversifikasi tanaman pangan akan berjalan seiring dengan kearifan lokal. Saat kearifan lokal mulai memudar maka diversifikasi tanaman pangan juga demikian. Hal-hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor internal mulai memudarnya kearifan lokal adalah kebutuhan, kebiasaan/perilaku,Aktivitas dalam masyarakat yang mulai meninggalkan bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada walaupun tidak secara langsung dan tidak mereka sadari. Faktor eksternal adalah mulai dari pengaruh kebijakan pertanian, teknologi baru, selera pasar yang cenderung berorientasi pada kepraktisan dan nilai ekonomis semata dan bersifat jangka pendek. Sebuah kearifan lokal, nilai-nilai yang terkandung didalamnya akan cenderung tetap tetapi hanya mengalami perubahan dalam sisi bentuknya saja. Sebuah keanekaragaman tanaman pangan akan tetap terjaga jika kita juga tetap mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang ada dan tidak melupakan budaya dan kearifan lokal yang selama ini sudah memberikan sagala sesuatu yang kita butuhkan.
a.Untuk makanan pokok atau menu utama sumber karbohidrat dan energi.
?Berbahan dasar beras.
?Berbahan dasar jagung.
?Berbahan dasar umbi-umbian.
?Berbahan dasar lainnya.
b.Untuk makanan pelengkap sayuran dan lauknya sumber lemak dan protein
c.Untuk makanan ringan atau jajanan.
d.Untuk aneka sambal dan bumbu.
Dari beranekaragam jenis makanan diatas masih bisa kita jumpai hingga sekarang dengan beragam jenis baru dan perpaduan darinya sebagai akibat dari hasil kreativitas dan semakin mudahnya mendapatkan bahan-bahan makanan yang dibutuhkan di pasar. Makanan tradisional tetap ada tak pudar ditelan zaman karena sudah berakar kuat dan menjadi warisan yang berharga untuk tetap dilestarikan karena terbukti makanan-makanan tradisional tersebut telah bertahan dari generasi ke generasi sesuai selera dan lidah orang Jawa serta sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari siklus hidup manusia Jawa itu sendiri
Dari sekian banyak tanaman pangan yang dikembangkan masyarakat masih ada satu lagi nilai kearifan lokal yang masih bisa tetap bertahan hingga sekarang ini yaitu minuman kesehatan atau jamu. Jamu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat jawa sebagai minuman khas yang memiliki keunikan dan kelebihan sendiri dalam membantu masyarakat terutama masyarakat desa Begadung untuk tetap dalam kondisi prima dalam menjalankan pengelolaan usaha taninya.

Keyword : Diversifikasi; Kearifan Lokal

Link terkait : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/205/jiptummpp-gdl-s1-2007-dwimaharia-10211-PENDAHUL-N.pdf



Abstract: PDF , PS , DOC