PERBANDINGAN KEBIJAKAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP MENURUT STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DENGAN KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN PERPAJAKAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN(Studi Kasus Pada PT. Pucuk Rosan Baru)

AJENG KUSUMA ASRINI

Abstract


Penelitian ini merupakan studi kasus pada Perusahaan Makanan Ternak PT. Pucuk Rosan Baru dengan judul “Perbandingan Kebijakan Penyusutan Aktiva Tetap Menurut Standar Akuntansi Keuangan Dengan Ketentuan Perundang-Undangan Perpajakan Dan Hubungannya Dengan Laporan Keungan Perusahaan”.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perlakuan kebijakan penyusutan aktiva tetap suatu perusahaan menurut Standar Akuntansi Keuangan dan peraturan Perpajakan serta pengaruhnya terhadap laporan keuangan perusahaan. Teknik analisis data yang digunakan untuk membandingkan kebijakan penyusutan aktiva tetap menurut Standar Akuntansi Keuangan dengan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan dengan menghitung penyusutan aktiva tetap berwujud menurut SAK dengan menggunakan metode garis lurus (Straight Line Method) dan juga menghitung penyusutan aktiva tetap menurut UU Pajak No. 17 Tahun 2000 menggunakan metode garis lurus.
Hasil perhitungan penyusutan aktiva tetap pada kasus penyusutan aktiva tetap PT. Pucuk Rosan Baru, total selisih perhitungan beban penyusutan menurut SAK dan Perpajakan sebesar Rp 167.672.202,35. Begitu juga dengan total selisih akumulasi penyusutan sebesar Rp 1.256.361.530,75. Selisih tersebut akan mempengaruhi besarnya pajak yang terhutang sebesar Rp 32.924.845,02.
Setelah memperhatikan dari pembahasan bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa; perbedaan metode penyusutan aktiva tetap menurut SAK dan Perpajakan menyebabkan timbulnya perbedaan waktu atau perbedaan temporer; dan penentuan umur ekonomis aktiva tetap menurut SAK berdasarkan masa manfaat aktiva yang sesungguhnya, sedangkan menurut UU Perpajakan didasarkan pada kelompok aktiva; serta selisih beban penyusutan menurut SAK dan Perpajakan berpengaruh terhadap penyajian neraca pada kelompok “Kewajiban Lain-Lain” dengan timbulnya perkiraan Pph Yang Ditangguhkan. Sedangkan dalam laporan laba rugi perusahaan laba bersih menurut SAK lebih besar daripada laba bersih menurut Perpajakan.Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis dapat mengimplikasikan bahwa jika perusahaan ingin menyusun laporan keuangan fiskal lebih baik dengan melakukan rekonsiliasi terhadap laporan keuangan komersial saja. Laporan keuangan yang sebaiknya dilampirkan dalam SPT Tahunan adalah laporan keuangan komersial yang dilengkapi dengan penjelasan koreksi fiskal. Dalam pemilihan metode penyusutan aktiva tetap sebaiknya perusahaan mempertimbangkan mana yang lebih menguntungkan dan lebih sederhana dalam perhitungannya.

 

Keyword : Penyusutan aktiva; undang-undang pajak

 

Link Terkait : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/18/jiptummpp-gdl-s1-2004-ajengkusum-900-pendahul-n.pdf


Keywords


Penyusutan aktiva; undang-undang pajak