Department of Accounting, 2005

Font Size:  Small  Medium  Large   Print Page

PERLAKUAN PRODUK RUSAK DAN PRODUK CACAT TERHADAP PERHITUNGAN BIAYA PRODUKSI UNTUK MENENTUKAN HARGA JUAL PRODUK PADA PT. INDUSTRI MARMER INDONESIA TULUNGAGUNG

Winayuningsih Winayuningsih

Abstract


Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus pada perusahaan marmer PT. Industri Marmer Indonesia Tulungagung dengan judul ?Perlakuan Produk Rusak dan Produk Cacat Terhadap Perhitungan Biaya Produksi Untuk Menentukan Harga Jual Produk Pada PT. Industri Marmer Indonesia Tulungagung?.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perhitungan alokasi biaya- biaya yang telah dikeluarkan terhadap produk rusak dan produk cacat dalam perhitungan biaya produksi dan untuk mengetahui adanya pengaruh produk rusak dan produk cacat terhadap penentuan harga jual produk pada PT. Industri Marmer Indonesia Tulungagung.
Berdasarkan data yang diperoleh dari perusahaan, maka dapat diketahui bahwa perusahaan tidak membedakan antara produk rusak normal dan abnormal, demikian pula pada perlakuan akuntansinya, produk rusak normal dan abnormal sama- sama menambah harga pokok produk selesai. Sedangkan produk cacat yang ada adalah produk cacat normal yang biaya perbaikannya oleh perusahaan sudah diperlakukan secara benar yaitu sebagai penambah elemen biaya produksi sehingga tidak ada permasalahan dengan perlakuan akuntansi terhadap produk cacat dalam perusahaan.
Oleh karena itu dari perhitungan akan diperoleh hasil yang berbeda antara produk rusak abnormal apabila dibebankan kepada produk selesai dan bila dibebankan sebagai kerugian serta pengaruhnya terhadap harga jual dengan tingkat laba sebesar 20% adalah sebagai berikut:
? Tahun 2003 harga pokok produk selesai Rp. 5.092.707.116 dan setelah produk rusak abnormal dibebankan sebagai kerugian menjadi Rp. 4.914.816.732 sehingga harga jual produk dari Rp. 26.782/ m2 menjadi Rp. 25.846/ m2.
? Tahun 2004 harga pokok produk selesai Rp. 6.817.635.367 dan setelah produk rusak abnormal dibebankan sebagai kerugian menjadi Rp. 6.506.596.290 sehingga harga jual produk dari Rp. 20.719/ m2 menjadi Rp. 19.773/ m2.
Dengan demikian perusahaan seharusnya lebih cermat dalam menghitung harga pokok produksi dan selalu mengadakan pengamatan secara intensif terhadap penyebab kerusakan dan besarnya kerusakan yang terjadi. Hal ini disebabkan karena harga pokok produksi akan berpengaruh terhadap harga jual produk. Apabila harga pokok produksi tinggi maka harga jual tinggi dan ini bisa berpengaruh pada volume penjualan serta tingkat daya saing perusahaan.

 

Keyword : PRODUK RUSAK; PRODUK CACAT; BIAYA PRODUKSI

 

Link Terkait : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/104/jiptummpp-gdl-s1-2005-winayuning-5171-PENDAHUL-N.pdf



Abstract: PDF , PS , DOC