Pengelolaan dan Pengembangan Benda Wakaf Berupa Tanah Menurut Hukum Iislam

MULYADI MULYADI

Abstract


Menurut data yang ada di Departemen Agama Republik Indonesia sampai dengan bulan September 2002 jumlah seluruh tanah wakaf di Indonesia sebanyak 362.471 lokasi dengan luas 1.538. 198. 586 M2, dan sebanyak 72 % di antaranya telah bersertifikat. Namun data inipun belum valid, karena sulitnya mendeteksi kebiasaan masyarakat untuk berwakaf dan jarangnya tanah wakaf yang didaftarkan atau disertifikatkan.
Dari sekian banyaknya benda wakaf tersebut para nazhir mempunyai kendala yang sangat mendasar dalam mengembangkan wakaf tersebut. Sedangkan dalam pengembangannya nazhir dituntut untuk dapat mengembangkan secara produktif sehingga dapat mengatasai masalah pendanaan pengembangan wakaf.. Dengan semakin banyaknya lembaga keuangan yang berbasis syari'ah, maka tentunya hal ini akan mempermudah dengan menjadikan lembaga keuangan tersebut sebagai mitra dalam memaksimalkan pemberdayaan dan pengelolaan benda wakaf secara produktif dengan prinsip-prinsip pembiayaan syari'ah.
Dari latarbelakang tersebut, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut: Pertama, bagaimana pengelolaan dan pengembangan benda wakaf berupa tanah menurut hukum Islam?. Kedua, bagaimana model-model pembiayaan pengelolaan dan pengembangan benda wakaf berupa tanah menurut hukum Islam?
Untuk menjawab permasalahan terebut, maka model penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (Library Research), dan metode pengumpulan data dokumenter, serta menggunakan contents analisys (analisa isi) sebagai alat analisa data yang didapatkan dari sumber data primer, sekunder, serta tertier. Akhirnya pembahasan ini berakhir pada suatu kesimpulan sebagai berikut.
1. Mengelola dan mengembangkan benda wakaf berupa tanah secara produktif menurut hukum Islam hukumnya boleh. Hal ini didasarkan pada tidak adanya nash secara sharih yang melarang atau memerintahkan mengembangkan benda wakaf. Di samping itu, adanya atsar al-shahabah, Ibn Taimiyah mengatakan, apabila benda wakaf mengalami rusak hingga tidak dapat membawa manfaat sesuai dengan tujuannya, hendaknya dijual saja kemudaian harga penjualannya dibelikan benda lain yang akan mendatangkan kemanfaatan sesuai dengan tujuan wakaf dan barang yang dibeli tersebut berkedudukan sebagai benda wakaf seperti semula.
2. Dari beberapa model pembiayaan tersebut, hanya model pembiayaan ijarah, mudharabah, musyarakah dan bagi hasil yang lebih efektif digunakan, karena hal ini terkait dengan obyek yang akan dikembangkan, di mana pada pembahasan ini hanya terfokus pada benda wakaf yang berupa tanah.

 

Keyword : Pengelolaan dan Pengembangan Benda Wakaf


Keywords


Pengelolaan dan Pengembangan Benda Wakaf