Department of Accounting, 2007

Font Size:  Small  Medium  Large   Print Page

ANALISIS PENDAPATAN ASLI DAERAH SEBELUM DAN SESUDAH OTONOMI DAERAH DI KOTA MADIUN

Sofyan Hari Wibowo

Abstract


Penelitian ini merupakan studi kasus pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Madiun dengan judul ?Analisis Pendapatan Asli Daerah Sebelum Dan Sesudah Otonomi Daerah Di Kota Madiun?.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi persentase perbandingan realisasi atas target untuk pajak daerah, retribusi daerah, bagian laba BUMD, dan lain-lain PAD yang sah, serta pertumbuhanya sebelum dan sesudah otonomi daerah dan mengevaluasi kontribusi komponen-komponen PAD sebelum dan sesudah otonomi daerah.
Analisis yang digunakan untuk mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah adalah rasio efektifitas. Analisis untuk mengukur seberapa besar kemampuan pemerintah daerah dalam mempertahankan dan meningkatkan keberhasilannya yang telah dicapai dari periode ke periode berikutnya menggunakan rasio pertumbuhan. Analisis yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi penerimaan komponen dalam PAD terhadap pendapatan asli daerah setiap tahunnya adalah rasio kontribusi.
Hasil penelitian secara berurutan untuk rata-rata rasio efektifitas, rasio pertumbuhan, dan kontribusi menunjukkan pajak daerah sebelum otonomi daerah sebesar 113,19%; 10,73%; 30,35% dan sesudah otonomi daerah 114,21%; 17,9%; 25,83%. Dan untuk retribusi daerah sebelum otonomi daerah sebesar 100,04%; -3,21%; 51, 79% dan sesudah otonomi daerah 110,73%; 20,41%; 24,05%. Bagian laba BUMD sebelum otonomi daerah 78,08%; -11,97%; 1,42% dan sesudah otonomi daerah 131,24%; 118,85%; 3,10%. Untuk lain-lain PAD yang sah sebelum otonomi daerah sebesar 124,35%; 6,74%; 15,64% dan sesudah otonomi daerah 158,45%; 28,51%; 47,01%. Dari analisis rasio efektifitas menunjukkan bahwa pajak daerah, retribusi daerah, dan lain-lain PAD yang sah sebelum otonomi daerah sudah efektif. Untuk bagian laba BUMD tergolong inefektif. Sesudah otonomi daerah masing-masing komponen PAD tergolong efektif. Untuk rasio pertumbuhan realisasi komponen PAD menunjukkan sesudah otonomi daerah mengalami peningkatan. Peningkatan ini karena adanya kenaikan harga tarif dan penambahan objek-objek baru. Kontribusi komponen PAD sebelum otonomi daerah yang memberikan peranannya terhadap PAD paling besar adalah retribusi daerah. Sesudah otonomi daerah, komponen PAD yang memberikan kontribusi paling besar adalah lain-lain PAD yang sah.
Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis dapat mengimplikasikan bahwa sebaiknya dilakukan upaya-upaya peningkatan komponen PAD melalui intensifikasi dan ekstensifikasi penggalian potensi. Dengan peningkatan komponen PAD maka PAD dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap penerimaan daerah.

 

Keyword : PAD, otoda

 

Link Terkait : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/194/jiptummpp-gdl-s1-2007-sofyanhari-9654-PENDAHUL-N.pdf



Abstract: PDF , PS , DOC