Department of Tarbiyah, 2003

Font Size:  Small  Medium  Large   Print Page

STUDI TENTANG KARAKTERISTIK KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH MENENGAH UMUMTAHUN 1994

Supriyadi Supriyadi

Abstract


Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya beberapa kritik terhadap kelemahan pelaksanaan kurikulum PAI 1994, sebab itu penelitian ini menfokuskan pada karakteristik kurikulum PAI 1994 yang bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam bagaimana karakteristik kurikulum tersebut, apa saja kelemahan-kelemahannya dan bagaimana upaya alternatif pengembangannya.
Penelitian ini dispesifikasikan pada obyek kajian tentang karakteristik kurikulum pendidikan agama Islam (PAI) tahun 1994 di Sekolah Menengah Umum. Sesuai dengan obyek studi tersebut, maka pendekatan penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research).
Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan seputar permasalahan yang menjadi fokus dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut; (1) Karakteristik kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Umum tahun 1994 dapat dipahami dari segi bentuk, isi dan struktur serta pengorganisasiannya. Pertama, dari segi bentuk, karakteristik kurikulum PAI 1994 berbentuk uraian ke bawah dan lebih sederhana dibanding kurikulum 1984 yang berbetuk kolom-kolom ke samping dengan kolom yang banyak sehingga sulit memahaminya. Kedua, dari segi isi, kurikulum 1994 lebih menekankan beberapa unsur pokok pada masing-masing jenjang, penekanan utama adalah materi yang diberikan selalu mengacu kepada pengamalan sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Kurikulum 1994 disempurnakan menjadi kurikulum 1999 yang kemudian dijadikan suplemen kurikulum 1994, salah satu karakteristiknya adalah adanya perincian tentang kemampuan dasar lulusannya dan indikator keberhasilan, serta penyederhanaan tema dari tujuh tema menjadi lima tema pokok. Ketiga dari segi struktur dan pengorganisasiannya kurikulum 1994 adalah menggunakan pendekatan kurikulum berbasis materi atau mata pelajaran; (2) Kelemahan kurikulum PAI 1994 dapat dipahami dari karakteristik kurikulum itu sendiri di satu sisi dan tantangan serta tuntutan pendidikan agama di sekolah di sisi lain. Dilihat dari karakteristiknya, kelemahan-kelemahan kurikulum 1994 antara lain lebih bersifat verbalistis dan formalistis, lebih menekankan aspek kognitif, lebih berorientasi belajar tentang agama dan kurang berorintasi belajar bagaimana cara beragama, lebih bersifat sentralistik di mana keseluruhan rangkaian kurikulum ditetapkan oleh pusat, lebih menekankan pada mempelajari ilmu, konsep-konsep serta nilai-nilai tanpa mengetahui untuk apa semua itu dipelajari, hal ini karena kurikulum 1994 menggunakan pendekatan kurikulum berbasis materi. Sementara itu dilihat dari tuntutan dan tantangan sosial, bahwa fenomena empiris pada saat ini terdapat banyak kasus kenakalan remaja, tindakan kekerasan, kriminalitas, konsumsi minuman keras, dan lain-lain. Meskiupun hal tersebut bukan semata-mata kegagalan PAI, tetapi bagaimana semuanya itu dapat menggerakkan guru agama dan semua pihak untuk mencari solusi lewat pengembangan pendidikan agama salah satunya dengan melakukan reorientasi kurikulum yang selama ini berjalan; (3) Kurikulum 1994 sebaiknya dilakukan reorientasi sebagai upaya pegembangan dan penyempurnaan kurikulum ke arah pemberdayaan (empowering) peserta didik agar mereka memiliki kecakapan hidup (life skill) sebagai bekal agar mereka dapat dan mampu hidup di tengah-tengah masyarakat. Oleh sebab itu, upaya alternatif pengembangan kurikulum 1994 adalah dengan mengubah dari pendekatan berbasis materi menjadi kurikulum berbasis kompetensi. Perbedaan yang signifikan kedua pendekatan tersebut yang pada akhirnya berimplikasi pada hasil (outcome) adalah bahwa pada kurikulum berbasis materi memberikan kesan bahwa tujuan siswa belajar ialah menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta segenap sistem nilai tanpa disadari untuk apa semua itu diajarkan. Fungsi amaliah ilmu pengetahuan, teknologi dan sistem nilai nampak kabur dan justru terabaikan, sementara kompetensi yang seharusnya ditonjolkan sebagai tujuan pendidikan justru terkubur di dalam timbunan materi ilmu pengetahuan, teknologi dan sistem nilai yang selalu berkembang. sebaliknya kurikulum berbasis kompetensi berngkat dari identifikasi kompetensi terlebih dahulu sementara keberadaan materi/kontens berupa seperangkat ilmu pengetahuan, teknologi dan sistem nilai hanya sebagai media/instrumen untuk mengantarkan peserta didik pada kompetensi yang dikehendaki.
Sesuai dengan hasil penelitian ini maka dapat diberikan rekomendasi atau saran pada beberapa pihak terutama bagi penentu kebijakan dan untuk peneliti lain, yaitu sebagai berikut; (1) bagi penentu kebijakan dalam hal ini pemerintah agar dalam melakukan perubahan kebijakan tidak didasarkan pada perubahan struktural birokrasi pemerintahan (sehingga muncul istilah ganti menteri ganti kebijakan), tetapi hendaknya perubahan tersebut lebih didasarkan para kebutuhan sebagai hasil dari analisa terhadap perkembangan sosial dan ilmu pengetahuan serta didasarkan pada kajian yang mendalam tentang pendidikan itu sendiri; (2) Bagi peneliti lain, bahwa penelitian ini lebih menfokuskan pada karakteristik kurikulum PAI 1994 SMU untuk melihat lebih mendalam karakteristik kurikulum tersebut, kelemahan-kelemahannya dan upaya mencari alternatif pengembangan ke arah kurikulum berbasis kompetensi, sebab itu peneliti lain dapat mengembangkan kajian tentang kurikulum terutama tentang kurikulum berbasis kompetensi yang akhir-akhir ini sudah mulai diimplementasikan di beberapa lembaga pendidikan.

Keyword : KURIKULUM, PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMU TAHUN 1994

Related Link : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/55/jiptummpp-gdl-s1-2005-supriyadi9-2744-Pendahul-n.pdf



Abstract: PDF , PS , DOC