PERBANDINGAN HUKUM DELIK PEMBUNUHAN MENURUT HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM

Yunistira Fauziyah

Abstract


Delik pembunuhan merupakan salah satu perbuatan yang menjatuhkan hak asasi manusia oleh karenanya delik pembunuhan ini diatur dalam KUHP sebagai suatu tindak pidana terhadap nyawa manusia. Begitu juga dalam hukum Islam, pengaturan tentang delik pembunuhan ini diatur dalam Al Qur’an dan dipertegas oleh hadist, keduanya mengatur tentang jenis delik pembunuhan, sanksi, serta bagaimana pelaksanaan hukuman. Meskipun masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam, hukum yang diterapkan adalah hukum peninggalan Belanda, yang pada kenyataanya berbeda sekali dengan hukum Islam. Sangat ironis sekali, apabila masyarakat dalam suatu negara yang mayoritas beragama Islam, namun tidak menerapkan ajaran Islam secara utuh dalam kehidupan masyarakat.
Sehubungan dengan hal diatas,dalam penulisan tugas akhir ini. Penulis ingin mengkaji dengan cara memaparkan perbedaan dan persamaan antara hukum positif dan hukum Islam khususnya delik pembunuhan. Penulis mencoba untuk mengevaluasi perbedaan dan persamaan tersebut yang terkemas dalam suatu rumusan; 1). Bagaimana pengaturan hukum delik pembunuhan menurut hukum positif dan hukum Islam. 2). Bagaimana fungsi pidana delik pembunuhan dan pengaruhnya bagi pelaku tindak pidana maupun orang lain menurut hukum positif dan hukum Islam. 3) Sejauh mana pengaruh pengampunan sikorban atau walinya terhadap delik peembunuhan menurut hukum positif dan hukum Islam.
Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dengan penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui pengaturan delik pembunuhan, fungsi pidana delik pembunuhan dan pengaruhnya bagi pelaku mampun orang lain dan untuk megetahui pengaruh pengampunan sikorban oleh wali korban menurut hukum positif dan hukum Islam.
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi pustaka terhadap Al Qur’an, Hadist, KUHP serta peraturan perundang-undangan yang lainnya.
Dalam studi pustaka dianalisa dengan metode diskriptif, dimana secara deduktif bertujuan mengemukakan data-data yang bersifat umum kemudian ditarik kesimpulan secara khusus baik dalam bentuk definisi maupun dalam bentuk konsep tentang delik pembunuhan menurut hukum positif dan hukum Islam. Kemudian secara komperatif penulis membandingkan beberapa konsep dalam hukum positif dan hukum Islam yang ada kaitannya dengan permasalahan untuk mendapatkan konsep hukum yang lebih mendekati kebenaran. Menurut pendapat penulis bahwa ternyata dalam hukum positif juga diatur mengenai delik agama, salah satunya Agama Islam yaitu dalam pasal 156 KUHP, walaupun secara spesifik tidak mengatur tentang delik pembunuhan, namun disitu membuktikan bahwa hukum positif juga mengakui keberadaan hukum Islam. Selain itu penulis berpendapat bahwa antara hukum positif dan hukum Islam ada beberapa perbedaan dan persamaan khususnya dalam delik pembunuhan, baik dari segi pengaturan hukumnya, pengampunan oleh wali korban, dan dari segi fungsi pidana.
Dari segi pengaturan hukumnya delik pembunuhan itu diatur dalam KUHP yaitu pasal 338 sampai pasal 350 dan pasal 359, sedangkan dalam hukum Islam sendiri diatur dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 178, surat Al Isra’ ayat 31 dan 32, Al Maidah ayat 45, An Nisa ayat 92 serta hadist Nabi. Sedangkan dari segi pengampunan yang diberikan oleh wali korban untuk hukum positif sama sekali tidak bisa menghilangkan pidana hanya meringankan, beda dengan yang diatur dalam hukum Islam, bahwasanya pengampunan itu menghapus pidana (qishas). Sedangkan persamaan dari segi pengampunan yang diberikan oleh wali korban adalah keduanya melibatkan penguasa dalam pelaksanaan hukuman. Untuk fungsi pidana ternyata antara hukum positif Dan hukum Islam tidak jauh berbeda yaitu fungsi pidana dalam hukum positif sebagai pembalasan bertujuan agar si pelaku tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut, sedangkan dalam hukum Islam tujuan tersebut dimasukkan dalam fungsi pencegahan. Selain itu dalam hukum positif tidak mencantumkan fungsi pidana sebagai suatu pengajaran, sedangkan dalam hukum Islam fungsi pengajaran bertujuan untuk memberi pengertian bahwa perbuatan tersebut tidak disenangi oleh Allah. Adapun persamaan fungsi pidana antara hukum positif dan hukum Islam, bahwa keduanya sama-sama setuju fungsi pidana ini bertujuan untuk menjaga kemaslahatan manusia, yang dalam hukum Islam menyangkut masalah Maqashid Al-Syari’ah.
Pada akhir penulisan tugas akhir ini ada beberapa saran penulis sebagai bahan masukan untuk perubahan undang-undang di negara Republik Indonesia.

Keyword :  DELIK PEMBUNUHAN

Related Link : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/23/jiptummpp-gdl-s1-2004-yunistiraf-1146-Pendahul-n.pdf


Keywords


DELIK PEMBUNUHAN