ANALISIS PERBANDINGAN KEDUDUKAN ANAK PEREMPUANDALAM PEWARISAN ADAT BALI DAN PEWARISAN HUKUM ISLAM( Studi Kasus di Kecamatan Tabanan Kabupaten Tabanan )

NUR ASTARIANINGSIH

Abstract


Pada hakekatnya subyek hukum waris itu adalah pewaris dan ahli waris. Menyinggung masalah hukum adat dalam kewarisan tidak sama ketentuannya di seluruh negeri ini karena sistem hukum kita yang sekarang ini masih mendasar pada pegangan sistem kekeluargaan yang dianut oleh masing-masing suku di Indonesia. Sedangkan faktor anak dalam pewarisan itu sendiri sangat penting karena anak sebagai ahli waris yang nantinya akan meneruskan keturunannya.
Sehingga ada beberapa permasalahan yang dapat penulis kemukakan yakni bagaimana kedudukan dan proses pembagian warisan terhadap anak perempuan dalam sistem pewarisan adat Bali di Tabanan, bagaimana kedudukan dan proses pembagian warisan terhadap anak perempuan di kalangan umat Islam di Bali khususnya di Tabanan dan hukum waris apa yang digunakan masyarakat Islam di Tabanan. Penulis mengambil lokasi penelitian di Tabanan alas an serta pertimbangan penulis memilih lokasi ini karena Bali memiliki corak kebudayaan yang sarat dengan cirri khas tersendiri. Metode pengumpulan data penulis menggunakan teknik pengumpulan data dan sumber data yang meliputi data primer dan data sekunder, data primer diantaranya interview dan observasi sdangkan data sekunder penulis menggunakan Library Reseach (penelitian kepustakaan), dan yang terakhir teknik analisa data yang menggunakan data diskriptif kualitatif.
Masyarakat Bali yang menganut sistem patrilenial lebih mengutamakan anak laki-laki. Anak laki-laki dianggap mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada anak perempuan. Dalam sudut pandang hukum waris adat Bali laki-laki adalah orang pertsma yang berhak mewarisi segala harta warisan orang tua karena kewajiban-kewajiban yang harus dijalani oleh seorang ahli waris ketika pewaris meninggal dunia termasuk kewajiban membakar mayat ketika pewaris telah wafat.
Sedangkan anak perempuan itu sendiri hanya berhak menikmati saja harta peninggalan orang tuanya, namun ada beberapa anak perempuan yang bias dijadikan ahli waris bila tidak adanya anak laki-laki dan diinginkan oleh orang tuanya yang disebut dengan istilah Sentana Rajeg. Seorang Sentana Rajeg yang mempunyai kedudukan sama dengan anak laki-laki dan mewaris biasa ialah seorang anak tunggal yang langsung ditetapkan oleh orang tuanya untuk meneruskan keturunannya dengan kawin “keceburin”.
Sedangkan umat Islam yang ada di Bali khususnya di Tabanan masih tetap memegang teguh ajaran-ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang tidak membedakan anak laki-laki dan perempuan dalam hal pewarisan, karena Islam setelaj jaman jahiliyah menetapkan anak laki-laki dan perempuan sama-sama mendapatkan harta warisan, hanya yang membedakan bagian yang diterima oleh anak laki-laki dan anak perempuan yaitu 2:1 seperti yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 11. Sangat jelas bahwa masyarakat Islam di Bali tetap menggunakan hokum Islam hanya bagi anak perempuan kedudukannya saja yang membedakan yaitu kemungkinan sebagai ahli waris dzawil furudh atau ashobah.
Dapat penulis simpulkan bahwasanya seorang anak perempuan dapat menjadi ahli waris apabila tidak ada anak laki-laki dan diinginkan oleh orang tuanya yang disebut Sentana Rajeg, sedangkan anak perempuan yang beragama Islam tetap mendapatkan bagian dari harta peninggalan orang tuanya menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh Al-Quran.

Keyword :  PEREMPUAN, PEWARISAN ADAT BALI

Related Link : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/23/jiptummpp-gdl-s1-2004-nurastaria-1141-Pendahul-n.pdf


Keywords


PEREMPUAN;PEWARISAN ADAT BALI