MAKNA TRADISI RITUAL TANDHAK SETREN BAGI TANDHAK (Studi Pada Acara Padang Bulan Di Padepokan Gunung Ukir Desa Torongrejo Kec. Junrejo Kota Batu)

Evita Nur Priati

Abstract


Dari hasil penggalian Ki Iswandi dari Padepokan Gunung Ukir Ds Torongrejo dipercaya bahwa penari pertama yang ada di batu adalah Nyi Srigati, beliau adalah salah seorang punggawa atau prajurit Pangeran Diponegoro pada tahun 1826 bersama Mbah Iro dengan rombongannya melarikan diri ke Jawa Tengah menuju Jawa Timur, karena dikejar-kejar oleh Belanda. Nyi Srigati memberi kekuatan, pengasihan, kewibawaan dengan cara ritual padusan (mandi jamas bulan purnama), selamatan nasi kabuli dan air kendi dengan cahaya lampu damar sewu pada setiap murid-muridnya. Upacara ritual tersebut berjalan setiap bulan purnama (tanggal 14 malam 15 penanggalan Jawa) karena pada tanggal itu ketika bulan penuh (bulan purnama) dianggap sebagai hari yang sacral.
Seiring dengan pergantian waktu, tradisi yang sempat hilang tersebut muncul kembali di tengah-tengah masyarakat yang lebih modern. Dengan kemasan yang lebih dinamis, ritual ini dibangun kembali oleh Ki Iswandi dari padepokan gunung ukir beserta para anggotanya yang merasa mempunyai kewajiban untuk uri-uri budaya leluhur (melestarikan budaya leluhur) sebagai salah satu aset kebudayaan yang memang sudah sepantasnya untuk dilestarikan.Ritual ini memang dikhususkan hanya untuk penari wanita atau tandhak, karena dalam setiap pertunjukan penari wanita yang selalu dianggap sebagai primadona.
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Bagaimana Proses Ritual Tandhak Setren Di Padepokan Gunung Ukir ? dan Apa makna Ritual Tandhak Setren Di padepokan Gunung Ukir bagi Tandhak?
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Mengetahui proses Ritual Tandhak Setren di Padepokan Gunung Ukir. Mengetahui makna Ritual Tandhak Setren Di padepokan Gunung Ukir bagi Tandhak.
Dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah anggota dari padepokan gunung ukir yaitu : Ki Iswandi selaku sesepuh Padepokan Gunung Ukir (Penyetren), Dewi (Tandhak), Ita (Tandhak), Hanifah (Tandhak), Ira (Tandhak), Pundi (Tandhak).
Teknik pengumpulan data adalah Interview / Wawancara, Observasi, Dokumentasi.Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisa diskriptif kualitatif.
Kerangka teori dari penelitian ini adalah teori Interaksionalisme Simbolik Herbert Blummer. Menurut H. Blumer teori ini berpijak pada premis bahwa: manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang ada pada ?sesuatu? itu bagi mereka. Makna tersebut berasal atau muncul dari ?interaksi sosial seseorang dengan orang lain?, dan. Makna tersebut disempurnakan melalui proses penafsiran pada saat ?proses interaksi sosial? berlangsung. Dan Interaksionalisme Simbolik George Herbert Mead yang menyatakan bahwa masyarakat bukanlah sesuatu yang statis ?di luar sana? yang selalu mempengaruhi dan membentuk diri kita, namun pada hakekatnya merupakan sebuah proses interaksi. Individu bukan hanya memiliki pikiran (mind), namun juga diri (self) yang bukan sebuah entitas psikologis, namun sebuah aspek dari proses sosial yang muncul dalam proses pengalaman dan aktivitas sosial.
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa ritual setren ini bagi tandhak adalah merupakan Sarana pengasahan mental, karena dari setren dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan munculnya perasaan aman dari dalam diri tandhak serta memperkuat insthink. Sehingga tandhak tidak pernah merasa canggung untuk berhadapan dengan orang banyak. Sarana untuk mendapatkan kekuatan magis berupa ilmu pengasihan, daya tarik yang lebih, serta penglarisan bagi diri tandhak. Dan adanya stimulasi kesungguhan dari para tandhak dengan menganggap bahwa setren ini sebagai sarana latihan olah tubuh dan latihan berinteraksi dengan penonton. Yaitu merasa dirinya lebih lincah dalam menari setelah mengikuti ritual setren. Hal ini juga menunjukkan profesionalisme seorang tandhak dalam menjalankan profesinya sebagai tandhak.

 

Keyword : tradisi ritual dan tandhak setren

 

Related Link : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/334/jiptummpp-gdl-s1-2009-evitanurpr-16655-PENDAHUL-N.pdf


Keywords


tradisi ritual; tandhak setren; UMM