KONFLIK ANTARA WARGA DENGAN TNI AL DI DESA ALASTLOGO (Studi Tentang Fungsi Konflik Bagi Masyarakat Pasca Tragedi Penembakan Warga Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan)

NORMAN CAHYADI

Abstract


Fenomena Konflik yang ada di Desa Alastlogo ini merupakan salah satu bentuk konflik sengketa tanah (Konflik Agraria) yang terjadi antara warga Desa dengan TNI AL. Warga Desa Alastlogo mayoritas penduduknya sebagai petani lahan kering yang menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian. Konflik ini berlangsung sejak tahun 1960an dimana pada akhirnya konflik klimaks terjadi tragedi penembakan warga pada tanggal 30 Mei 2007. Konflik tidak hanya dapat dilihat dari sisi negatif, tetapi konflik juga bisa mengarah pada aspek positif dalam segi fungsi. Dari adanya tragedi tersebut maka terdapat fungsi-fungsi konflik bagi masyarakat.
Jenis Penelitian ini adalalah deskriptif kualitatif dimana lokasi penelitian dilakukan di Desa Alastlogo Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, wawancara (Open Interview), dan Dokumentasi. Teknik menentukan Informan dengan menggunakan teknik Snowball Sampling. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan data kualitatif dengan memakai model analisia interaktif.
Dari hasil studi, terdapat 2 (dua) hal yang melatar belakangi terjadinya konflik, yaitu adanya sengketa tanah antara warga dengan TNI AL dan adanya unsur Kerjasama (Bisnis) Militer Dengan Beberapa Perusahaan. Secara kronologis konflik secara keseluruhan dapat dibagi menjadi 3 (tiga) periode yakni periode 1 (1960 ? 1962) Pengambilan Paksa atas Tanah Oleh TNI AL, Periode 2 (1966-2001), Adanya praktek Kerjasama (Bisnis) Militer dengan Perusahaan, Periode 3 (2006 - 2007) Konflik Klimaks Sengketa Tanah, tragedi Penembakan warga. Pasca tragedi penembakan, terdapat 4 (empat) fungsi yang nampak dan ditemukan oleh peneliti. Pertama, Demonstrasi pemboikotan Jalan Raya sebagai wujud aksi protes warga. Kedua, meningkatnya kapasitas masyarakat dalam usaha penyelesaian konflik. Ketiga, adanya tindak lanjut proses penyelesaian konflik secara hukum. Keempat, hilangnya Kekerasan TNI AL terhadap warga.
Fenomena ini dianalisis dengan menggunakan teori Dahrendorf yang menyatakan adanya konflik secara struktural. James C Scoot, tentang Moral Ekonomi dan Perlawanan Petani.Teori fungsi konflik Lewis A. Coser, yang menyatakan beberapa proposisi fungsi konflik dalam masyarakat. Dari beberapa proposisi yang ditawarkan, ada 3 (tida) proposisi yang terlihat dari hasil studi di lapangan. Petama, adanya konflik tidak realistis yakni demonstrasi pemboikotan Jalan Raya dan konflik realistis yakni dengan penyelesaian masalah melalui jalan hukum. Kedua, munculnya lembaga katup penyelamat sehingga konflik dapat diminimalisir. Ketiga, konflik dapat meningkatkan kohesi internal dimana kapasitas masyarakat dalam usaha menyelesaikan konflik meningkat dan terkendali sesuai proses hukum. Dari adanya konflik terdapat proses pendewasaan masyarakat dimana terdapat kesadaran proses birokrasi dan hukum yang memang belum tersosialisasikan secara intensif sebelumnya.

 

Keyword : Konflik, Fungsi Konflik, Tragedi Penembakan, TNI AL, Masyarakat


Keywords


Konflik; Fungsi Konflik; Tragedi Penembakan; TNI AL; Masyarakat; UMM