FUNGSI TRADISI SLAMETAN CEMBENGAN DALAM MENCIPTAKAN KETERATURAN SOSIAL (Studi Deskriptif pada PT Pabrik Gula Krebet Baru Bululawang Malang)

PUJI WULANDARI

Abstract


Upacara tradisional merupakan salah satu bentuk tradisi masyarakat Indonesia yang sampai saat ini masih banyak dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya. Upacara tradisional artinya kegiatan sosial yang melibatkan para warga masyarakat dalam usaha mencapai tujuan tertentu. Sistem relegi dimasyarakat khususnya dalam sistem keagaman masyarakat Jawa salah satunya disebut dengan slametan. Slametan dijadikan dalam bentuk berkumpul bersama yaitu lebih dari dua orang untuk memohon doa. Doa yang dipanjatkan bertujuan agar meminta keselamatan dan mengabulkan yang mereka inginkan slametan dipimpin oleh seorang pemuka masyarakat. Satu hal yang tidak lepas dari slametan yaitu sesaji yang berupa makanan tradisional.
Seiring dengan arus industrialisasi dan globalisasi yang membawa konsekuensi bagi perubahan sosial, maka sistem relegi yaitu slamelan juga mengalami pergeseran. Tetapi di antara masyarakat terdapat komunitas tertentu yang masih mempertahankan sistem-sistem religi yang dilakukan secara tradisional dan memiliki kekuatan dan daya tarik aslinya. Fenomena ini nampak pada sistem relegi yaitu tradisi slametan cembengan, yang berlangsung sejak lama yang dilakukan diseluruh pabrik gula yang terdapat dipulau Jawa.
Dengan sejarah berdirinya pabrik yang cukup lama dari jaman sebelum kemerdekaan tersebut, maka pabrik gula memiliki nilai-nilai sosial budaya yang telah menjadi tradisi dan selama ini dapat menjaga keteraturan sosial dalam pabrik gula. Slametan cembengan yang semula merupakan upacara ritual yang dilakukan oleh para pekerja dipabrik gula untuk meminta keselamatan dan hasil yang baik telah berubah menjadi pesta rakyat sekitar pabrik Tradisi tersebut dilakukan secara turun temurun yang diyakini dapat menghindarkan manusia dari pengaruh buruk yang merupakan akulturasi tradisi Cina.
Fakta yang terjadi di PT PG Krebet Baru menunjukkan bahwa hingga saat ini masih melaksanakan ritual tersebut saat musim giling. Berdasarkan fakta tersebut dirumuskan pemasalahan ini yaitu bagaimana bentuk tradisi cembengan tersebut saat ini dan bagaimana kontribusinya terhadap keteraturan sosial.
Penelitian ini mengambil lokasi di PT PG Krebet Baru Bululawang Malang. Populasi yang diambil adalah seluruh karyawan yang bekerja di PG Krebet dengan jumlah sampel sebanyak 18 orang. Cara pengambilan sampling dengan menggunakan teknik snow ball sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah interview/wawancana, observasi dan dokumentasi. Sedangkan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Tentang Tipe-Tipe Tindakan Sosial Menurut Max Weber, Auguste Comte dan Levi-Strauss menjelaskan bahwa saling ketergantungan yang harmonis. Clifford Geertz mengenai agama, kebudayaan, dan upacara dan teorinya Giddens tiba pada ?teori strukturisasi?.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan berkaitan dengan peran tradisi cembengan dalam menciptakan keteraturan sosial diperoleh suatu kesimpulan bahwa bentuk dan tradisi cembengan tersebut yaitu sebuah upacara ritual yang dilakukan oleh para pekerja di dalam PG untuk meminta keselamatan dan hasil produksi yang baik, yang disertai dengan arakan pengantin tebu, penanaman tujuh kepala kerbau, pasar malem, pementasan wayang dan pasar malam.

 

Keyword : TRADISI, CEMBENGAN, KETERATURAN SOSIAL

 

Related Link : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/336/jiptummpp-gdl-s1-2009-pujiwuland-16800-1.+Penda-n.pdf


Keywords


TRADISI; CEMBENGAN; KETERATURAN SOSIAL; UMM