PENERIMAAN DIRI PADA REMAJA PENYANDANG TUNANETRA (di Bina Cacat Netra BUDI MULYA, MALANG)

ARINA ZULFA

Abstract


Remaja penyandang tunanetra adalah orang yang mengalami hambatan pada fungsi penglihatannya, baik secara total (totally blind) atau masih memiliki sisa penglihatan tapi tidak mampu digunakan untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 point dalam cahaya normal (low vision) pada waktu remaja, yaitu berkisar antara usia 12-21 tahun. Seorang remaja yang dilahirkan dalam kondisi normal kemudian mengalami kecelakaan dan dinyatakan menjadi penyandang tunanetra di usia remaja akan mengalami banyak perubahan dalam dirinya, baik secara fisik maupun psikologis. Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini akan menimbulkan emosi negatif pada diri remaja, karena ia harus menjalani serangkaian proses penerimaan diri yang membutuhkan kurun waktu tertentu sehingga ia bisa menerima kondisi dirinya yang baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran proses penerimaan diri pada remaja penyandang tunanetra serta faktor pendukung dan penghambat penerimaan diri tersebut.
Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subyek penelitian adalah 2 orang yang dinyatakan menjadi penyandang tunanetra di usia remaja dan kini sedang menempuh pendidikan di Bina Cacat Netra ?BUDI MULYA?, Malang. Teknik yang digunakan untuk pemilihan subyek adalah purpossive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara (interview). Teknik keabsahan data yang digunakan triangulasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 2 remaja yang pada awalnya berada pada kondisi fisik normal tiba-tiba mengalami kecelakaan dan dinyatakan menjadi remaja penyandang tunanetra mengalami penolakan pada kondisinya yang baru, marah, depresi dan kemudian menerima dirinya. Penerimaan diri ini bersifat fluktuatif dan tidak stabil. Artinya, proses penerimaan diri dapat berulang ketika subyek kembali mengalami konflik yang tidak mampu ia selesaikan dan adanya pikiran negatif terhadap keadaan. Adapun diketahui bahwa subyek perempuan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat menerima dirinya kembali dibandingkan dengan subyek laki-laki. Kondisi ini dikarenakan dalam menyikapi persoalan subyek perempuan lebih banyak menggunakan emosi sementara laki-laki lebih banyak menggunakan rasio. Subyek perempuan cenderung lebih mudah kembali down saat disinggung permasalahan yang terkait dengan fisik sedangkan subyek laki-laki lebih mudah kembali down saat permasalahan terkait dengan harga diri. Akan tetapi penerimaan diri subyek akan mampu bertahan pada saat ia memiliki harapan yang kuat. Hal ini juga didukung dengan pendekatan agama yangs dilakukan subyek dan perasaan bahagia saat berkumpul bersama orang yang senasib, sehingga ia bisa berpikir lebih positif, bersikap realistis dan memotivasi dirinya untuk maju.

 

Keyword : Penerimaan diri, Remaja Penyandang Tunanetra

 

Related Link : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/312/jiptummpp-gdl-s1-2009-arinazulfa-15574-PENDAHUL-N.pdf


Keywords


Penerimaan diri; Remaja Penyandang Tunanetra; UMM