PENERIMAAN DAN PENOLAKAN SOSIAL TERHADAP ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH DASAR INKLUSI (SD NEGERI BEDALI 5 LAWANG)

Nissa Retno Andini

Abstract


Sekolah inklusi merupakan terobosan pemerintah dalam 5 tahun terakhir ini, untuk memberikan pelayanan khusus bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di sekolah reguler agar dapat berkembang secara optimal, namun pada kenyataannya aspek sosial masih cenderung menjadi masalah, seperti sikap dari sekolah reguler atau dari teman-teman yang normal. Dilihat dari survei awal di salah satu sekolah dasar inklusi di Malang, teman-teman normal ada yang mengolok, tidak mau dan menolak, namun ada juga teman normal yang membantu teman ABKnya ini. Penerimaan sosial sangat penting dibutuhkan, terlebih lagi pada anak yang memiliki kelainan ataupun kecacatan karena berdampak positif terhadap harga diri, begitu juga dengan penolakan sosial akan mempengaruhi diri anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerimaan dan penolakan sosial terhadap anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar inklusi serta faktor-faktor yang melatarbelakangi penerimaan dan penolakan sosial tersebut.
Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilaksanakan pada tanggal 24 Juli sampai dengan 29 Agustus 2008. Dengan subyek penelitian sebanyak 10 orang dan memiliki karakteristik anak berkebutuhan khusus yang berbeda-beda, yaitu 2 subyek tunanetra, 2 subyek tunarungu wicara, 1 subyek tunagrahita C1, 2 subyek autis, 1 subyek tunadaksa, 1 subyek low vision dan 1 subyek cerebral palsy. Lokasi penelitian adalah di sekolah dasar inklusi SD Negeri Bedali 5 Lawang. Data ini diambil menggunakan teknik sosiometri, wawancara dan observasi. Data yang didapat dianalisis menggunakan analisa kualitatif.
Dari hasil penelitian di dapat data bahwa anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar inklusi SDN Bedali 5 Lawang pada umumnya diterima secara sosial oleh teman-teman sebaya mereka yang normal, namun ada juga beberapa diantaranya ditolak secara sosial. Dilihat dari karakteristik subyek ABK bahwa empat diantaranya diterima dan ditolak secara sosial, yakni tunanetra, tunarungu wicara, tunagrahita C1 dan low vision, dua yang diterima secara sosial saja, yakni autis dan cerebral palsy, untuk penolakan sosial yakni ABK yang tunadaksa, dengan bentuk penerimaan sosial, yaitu suka membantu, diajak mengobrol, bercanda dan bermain, sedangkan bentuk penolakan sosial, yaitu suka mengganggu, menggoda, tidak diajak bermain dan tidak menghargai teman ABKnya ini. Faktor-faktor yang melatarbelakanginya, yaitu pola kepribadian, kemampuan akademik, kemampuan sosial dan dari daya tarik penampilan.

 

Keyword : Penerimaan dan Penolakan sosial, Anak Berkebutuhan Khusus, Sekolah Dasar Inklusi

 

Related Link : http://skripsi.umm.ac.id/files/disk1/314/jiptummpp-gdl-s1-2009-nissaretno-15678-PENDAHUL-N.pdf


Keywords


Penerimaan dan Penolakan sosial; Anak Berkebutuhan Khusus; Sekolah Dasar Inklusi; UMM